Pada akhirnya lelucon beberapa tahun lalu yang mengatakan "nadiem merancang anak2 kita agar besarnya pada jadi ojol" Sekarang tampak sedikit masuk akal
Lebih tepatnya sistem pendidikan DAN kesehatan sedang dirancang buruk agar SDM buruk sehingga bisa dikontrol dengan mudah baik pemerintah atau penjajah. Selama pemerintah kita korup, jangan harap kedua sistem ini akan baik
saya seorang praktisi di industri kreatif, diajak ngajar di smk jurusan multimedia dari 2019 sampe 2024, bahkan sampe menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum, tapi saya mundur dari mengajar juli kemarin, karena saya merasa bagaikan mendorong sebuah batu besar sendirian. 1. Sistem pendidikan yang terfokus ke kekurangan anak, bukan fokus ke kelebihan anak dan memfasilitasi kelebihan tersebut, contoh ada anak yang gambarnya jelek banget, tapi dia jago di bidang fotografi dan videografi, sistem mengharuskan si anak bisa menggambar, karena masih ada sistem KKM, Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh sekolah 2. Mental tempe, dunia kerja itu keras, tekanan deadline, disiplin, kualitas kerja, dan lainnya itu harus ditegaskan ke anak smk, tapi hal ini banyak ditentang oleh guru lain karena takut dengan undang-undang perlindungan anak, yang menjadikan anak bermental tempe dan ngelunjak karena gurunya takut untuk bersikap tegas. 3. Pasti naik kelas, selama menjabat saya tidak meluluskan sekitar 9 siswa, dan tidak menaikan 12 siswa, hal ini jadi kontroversi karena anak yg tidak lulus dan tidak naik dipastikan malu untuk tetap di sekolah yang sama sehingga memutuskan untuk pindah, perlu di ingat bahwa jika siswa tidak lulus atau naik kelas, maka sistem di dapodik juga harus disesuaikan, ini yang menjadi ketakutan banyak sekolah karena presentasi kenaikan dan kelulusan menjadi tidak 100%, dan itu bisa berpengaruh ke akreditasi atau penilaian sekolah. 4. Sekolah swasa itu bisnis keluarga, bukan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, selayaknya sebuah bisnis ya pastinya dituntut untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, guru dituntut harus S1 dan S2 tapi gaji jauh dibawah UMK, sering bantuan atau dana bos yang menjadi hak guru tidak sampai ke guru, sehingga bagaimana guru bisa mengajar dengan baik jika di pikirannya harus terbagi dengan bagaimana cara mencari tambahan pemasukan untuk bisa bertahan 1 bulan ke depan. 5. Orang tua yang terlalu ikut campur, saya pernah melakukan analisis ternyata orang tua yang lahir di tahun 70, 80, 90 an itu cenderung memiliki dendam yang terpendam terhadap gurunya, mereka akan ingat kepada guru yang pernah memukul mereka dengan sapu atau menampar mereka dulu saat sekolah di jaman orde baru, saat itu orang tua mereka tidak membela, bahkan memberikan hukuman tambahan di rumah, inilah yang menjadi dendam terpendam, dimana saat anak mereka sekarang mendapatkan masalah di sekolah, orang tua ini ikut campur, tidak menerima dan tidak mau jika anak mereka mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka di masa lalu. intinya adalah, banyak variabel yang rumit di sistem pendidikan di indonesia akan terus membuatnya jalan di tempat, sekolah yang hanya terfokus mencari keuntungan, guru yang harus mengajar disana sini, buka les dan jualan online untuk bertahan hidup, dan pemerintah yang membuat sistem tanpa terjun ke lapangan secara langsung.
@@YusufMaulanaAripin menanggapi no 1 dan 4...kira² apa solusi terbaik dr anda??krna saya jg berpikir demikian...saya gk mw memaksa anak belajar dikekurangannya...tp tuntutan skolah..apalagi skarang nilai minim remidi 80...kan t41.... Yg soal ortu...itu lebih ke arogansi aja sih...saya kelahiran 90...saya bilang ke guru nya...klo anak saya tolong dididik...klo perlu dipukul ya dipukul...tp kata gurunya...udah gk boleh kayak gt pak...lhaa trus bwt apa anak ku skolah?cm suruh kejar nilai aja?
Kalau sudah begini, jika orang tuanya mampu dan cukup intelek, mending anak home schooling aja, anak yang unik bisa diarahkan sesuai bakat dan minatnya, orang tua akhirnya bisa yakin bahwa ya anaknya sudah sampai di level kognitif itu. Karena bagaimana pun, anak itu adalah tanggung jawab dan komitmen orang tua. Jika didelegasikan ke orang lain dan ternyata sistemnya bermasalah, maka anak pun jadi "rusak", dan akan gagal dan mudah rapuh di kemudian hari, saat dia harus mandiri dan orang tua sudah tidak ada lagi hadir mendampinginya.
Alhamdulillah saya telah menjadi pengajar di salah satu politeknik swasta, kemudian saya dipercaya untuk mengampu matakuliah matematika dasar, ketika pertama kali mengajar di kelas saya cukup senang dengan antusiasme baik dari mahasiswa yang ceria. Namun singkat cerita momen dimana saya kaget ketika memberikan kuis ringan mengenai operasi hitung campuran kepada mereka, ternyata kebanyakan dari mereka menjawab dengan salah dan sebagiannya bahkan masih coba menyelesaikan hitungan sperkaliannya. Ternyata setelah pelajaran selesai saya baru mengetahui bahwa lebih dari setengah kelas mahasiswa tersebut banyak yang belum menghapal kali kali 1-10. Kadang bingun, bagaimana bisa mereka bisa naik kelas dengan backround keilmuan sepeeti ini? Dan juga bagaimna mereka mau melanjutkan pelajaran kalau kali turun dan bagi menurunpun tidak tau? Miris, kasihan dan sedih melihat mereka.
@@wahyupujisahputra9948 saya yg lagi belajar di salah satu bimbel online untuk keperluan tes aja juga kadang heran masih ada yg belum paham dan bisa matematika dasar
Ini real cerita temen ponakan aku, waktu SD dan SMP dia pintar dan pernah juara olimpiade tingkat provinsi, tp ketika mau masuk SMA dia ngga masuk zonasi makanya ngga diterima di SMA manapun,, dan sedihnya sekarang dia depresi ngurung diri di rumah dan putus sekolah... ini alasan aku sangat benci sama bpk Nadiem, bagaimana kebijakan2 pendidikan yang ada merusak proses hidup seseorang, tp apa beliau peduli? BIG NO.. guru honorer dan anak2 sekolah seperti tikus percobaan😢
@@Rommydk.1979 Dia mungkin ada keinginan untuk masuk sekolah Favoritnya dikarenakan mungkin dia awal diterapkan sistem Zonasi wilayah dia menjadi tdk mendapatkan sekolah yg diinginkan hingga mentalnya menjadi down dan depresi.
Banyak sekolah swasta yang hebat2. Kenapa tidak masuk sekolah swasta. Sekolah swasta dari segi tenaga pendidik ada yang lulus an S2-S3. Coba bayangkan jika keinginan anak anda menjadi pemrograman, membuat game, membuat robot diajarin guru S2/S3 jadilah dia anak SMA ilmuwan.
MAU CURHAT, kebetulan saya kelas 11 SMA di desa, di sekolah saya itu jarang belajar jamkosnya bikin saya muak karna hampir tiap hari tdk belajar...guru2 hanya sibuk sama PPPK dan mereka ngelantarin siswa2 alias tdk mengajar...jujur sy muak muak bahkan belajar matematika dari bulan juli-oktober ini baru 1x pertemuaan. Sedihh bgtt muakk bgt alhasil harus belajar sendiri dari yutub😭, yang lebih bikin sy muak, guru2 itu yang sibuk sama PPPK mereka nyuruh2 siswa buat ikut kek bantuin tugas si guru itu( UKIN GURU SY TDK PAHAM UKIN UKIN INI BUAT APA) Yang jelas kami di suruh pura2 jawab soal yang mana tuh soal udah dikasi tau jawabannya di grup wa, berasa kayak lagi main game yang pake cheat🥲 disuruh main ikut aturan main awowkwkwk, karna sy males sy memilih tdk ikutan bantuin guru2 itu. MUAK SOALNYA dan tau apa respon si guru itu tiap kali ketemu saya? Tatapannya sinis sekali wkwkwk Edit : maksud saya di atas PPG bukan PPPK, terimakasih abang2 kakak2 mba2 netizen yang sudah mengingatkan di kolom komen 🙏🏼
ya itu agak memilukan sih, apa lagi itu mata pelajaran yang penting. tetapi kenapa guru sibuk PPPK, se tau saya PPPK itu ada tunjangan tiap bulan nya. yang dimana kalau gaji dari sekolah saja itu hanya sedikit, maka dari itu guru sibuk dengan PPPK. tapi seharusnya guru bisa mengatur waktu untuk P3K sama mengajar, apa lagi guru tugas utama nya untuk mengajar.
asli kurikulum merdeka ini memang sampah banget, guru jarang masuk terus sekalinya masuk disuruh buat ppt dan di presentasikan tanpa diberi tau tentang materinya, sekolah isinya cuma tugas kelompok sama presentasi, pas tugas kelompok juga ga semua nya kerja ada anak yang numpang nama doang
Ttp belajar aja walaupun sendiri. I know keadaan ga bisa dimaklumi karena banyak bgt kekurangannya, tapi jgn sampe itu jd penghalang untuk cari ilmu yak. Bisa disampaikan juga ke temen2 yang mungkin sevisi. Nongkrong boleh, belajar juga tetap harus, apalagi hal-hal dasar dan seserhana itu wajib
Dan munculah kalimat mengerikan dari para siswa SD, "ngapain belajar, ngapain ngerjain PR, ngapain capek-capek mikir? Toh nanti juga naik kelas, nanti juga lulus." Ini adalah ucapan anak2 siswa saya dalam beberapa angkatan. Gimana coba?
Jujur dulu saya waktu sekolah emang males belajar dan cuma Kejar ijasah, tapi ya dipaksakan belajar karena pengan naik kelas/lulus. Tapi kalo ga effort juga dijamin naik kelas/lulus, anak-anak yang gapunya niat belajar dari diri sendiri akan berpikir ngapain belajar?
Pelan-pelan dijelaskan dong ke anak kalau belajar itu untuk menambah pengetahuan, pemahaman, cara menggunakan pengetahuan, mengalami pengetahuan, mengkoreksi kekurangan, dan terus tumbuh dalam keterlibatan di dalam kelompok, budaya, dan lingkungan. Namanya juga anak yang suka belajar pasti mempertanyakan tujuan pembelajaran.
Indonesia ini ya mau pakai kurikulum atau sistem pendidikan dari negara mana saja, mau Finlandia, Inggris, Amerika, Jepang atau negara maju lainnya, selama sarana pendidikannya masih kaya sekarang ya percuma. Saya tidak ngomongin sekolah negeri di kota besar dan kota-kota lain (level kabupaten/kota madya). Tapi saya ngomongin soal sekolah negeri di desa-desa. Terutama di daerah luar Jawa, lebih-lebih di daerah terpencil. Sudah biasakan melihat sekolah bangunan mau ambruk, ada yang ala kadarnya berdiri, kursi meja lapuk, lantai tanah. Coba lihat kenyataan. Pasti sedih lagi liat murid-muridnya, ke sekolah pakai seragam seadanya. Guru juga ala kadarnya, berjuang demi pendidikan dengan fasilitas seadanya. Yang model begitu mau dikasih sistem apa aja juga percuma saudara-saudara. Realistis saja. Saat ini yang diperlukan dulu itu pemerataan sarana pendidikan. Ini tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Lebih tepatnya pemerintah daerah sebagai ujung tombak utama. Pemerintah pusat paling cuma mengucurkan dana (itu juga sebagian pasti ada korupsi), pemerintah daerah lebih suka nyimpan duit dana di bank saja daripada untuk membangun.
Recruitment nya g ikt filandia . Tp kurikulum ikt filandia. Kan aneh. Umpama loe punya perusahaan sistem mau bikin kyk Google. Tp pemilihan karyawan g sama kyk Google.
Jangan lupa juga masalah mental pendidikan di negara kita, di negara negara maju mental pendidikannya sudah sangat bagus. Bisa belajar darimana saja dan kapan saja, kepedulian dan pembimbingan orang tua dan guru dalam pendidikan di luar sekolah, lebih diutamakan paham daripada hafalan. Sedangkan disini masih banyak sekali orang - orang yang memandang rendah pendidikan, menginginkan jam sekolah dikurangi dengan alasan negara lain juga melakukannya padahal di negara lain pulang sekolah masih bisa belajar di rumah dengan orang tua atau internet sedangkan disini pulang sekolah ya main atau kegiatan lain di luar pendidikan.
Negara Israel dalam setiap 7 orang penduduk...5 orang berpendidikan S3...tapi lihatlah manusia manusia genius IQnya membantai rakyat Palestina khususnya Gaza tanpa ampun dalam setahun terakhir dan dalam kurun waktu 75 tahun...apalah artinya pendidikan akademi tinggi berkualitas Internasional tapi hati nurani mati...😢😢😢😢😢
Makasih videonya bang. Akhirnya ada yang buat konten kek gini. Dunia pendidikan sekarang hancur banget semnjak siswa ga naik kelas hanya guru disalahin, ga ada UN, ga ada ranking dan zonasi
Daripada merekrut guru banyak2 yg gak jelas seleksinya dan dipaksakan, mending rekrut TU banyak2 yg gak paham pelajaran, tapi bisa maen komputer, biar video penjelasan pelajaran diserahkan pada ruang guru. 😂😂 Dijamin anggaran kecil pasti sukses. Atau gak, serahkan kepada muhammadiah. Mereka swasta tuh, tapi malah sukses. Bubarkan aja kementerian Pendidikan, pake pola swakelola Pendidikan
Ini masih dalam ranah "sekolah", belum lagi ranah "pendidikan tinggi". Kami para dosen sudah sangat sangat sangat sering berbicara didepan para stakeholder, terutama para pejabat2 kemendikbudristek. Kami dipush untuk "meluluskan" mahasiswa baik itu mata kuliah dan skripsi, jika tidak maka akreditasi prodi lah yang jadi korbannya, dosenlah yang jadi korbannya. Sementara sang "mahasiswa" yang kami ajar, bukan hanya kualitasnya yang dibawah standar, ettitude mereka juga jauh dibawah para mahasiswa 10 tahun yang lalu. Ketika saya kuliah S1 tahun 2009, tidak ada mahasiswa yang berani main hp didalam kelas. Kalau sekarang? Mereka terang-terangan ngeluarin hp didepan dosen. Bahkan ada mahasiswa saya yang duduk di bangku paling depan terus tidur. Kenapa tidak saya tegur? Karena saya tidak ingin beberapa hari kemudian saya viral dengan julukan "Dosen killer" di berbagai media sosial. Dosen saat ini sangat terkekang dengan peraturan kementrian pendidikan yg menekan dosen untuk memudahkanmahasiswanya dengan cara memberi nilai yg bagus.
Baca komentar kakak saya jadi ingat saat masih jadi mahasiswa. saya mahasiswa 10 tahun lalu. Lulusan teknik yang beberapa kali sempat ketiduran saat dosen sedang menerangkan materi. Bukan karena malas atau nggak menghormati dosen, tapi karena ngelembur sibuk dengan project2 yang diberikan melebihi kapasitas kemampuan dengan waktu yang terbatas. Kadang kami hanya tidur 1-2 jam saja. Itu pun hasilnya harus setara kampus top 3. Meskipun kampus kami negeri provinsi tapi tetap berat bagi kami apalagi kalau dosen hanya mau terima jadi. Keresahan kami kadang ada beberapa dosen yang suka nyuruh tapi enggan membimbing + minim toleransi. Jadi, mohon kak lihat juga dari sudut pandang mahasiswa. Nggak semua mahasiswa suka tidur itu karena malas, kadang juga karena tugas2 yang diberikan dosen itu sendiri, bahkan beberapa ada yang kerja part time. Semoga kemendikbudristek mendengar keresahan para dosen dan dipermudah segala urusannya.
@@youngyounglea8551 Saya paham karena saya juga lulusan teknik. Tugas dan praktikum kami dulu juga dipush terus gak jauh beda dengan upn itb. Tapi 10 tahun yg lalu, mahasiswa masih memiliki etitut yg bagus dikelas. Jika mau tidur bisa duduk dibelakang, saya dulu juga gini wkwk. Dosen juga paham. Ini terang-terangan duduk didepan, main hp kemudian tidur. Dan baru-baru ini, dosen paling senior di prodi saya menunggu 1 jam di kelas tapi tidak ada mahasiswa yg datang atau menghubungi beliau (maba 2024). seperti inikah mahasiswa pasca covid?
Nahh ini yang anak saya alami kenapa dia sampai tertidur di kelas.karna dia hanya cuma punya waktu tidur 2-3 jam sehari.disebabkan karna kurikulum merdeka setiap mata kuliah harus ada tugas laprak,tugasnya pun banyak banget sehingga mahasiswa sudah ga punya waktu lagi untuk beristirahat.bahkan hari sabtu minggu pun mereka masih buat laporan tugas .
Jadi sebenernya masalah ini 2 arah, dari sisi dosen iya kesel,tapi dari siswa juga mereka seperti tenggelam dalam tugas tugas mereka. Ga enjoy amat yak jdnya 😢😢
Sungguh memprihatinkan, dan disarankan untuk masukin anak ke Sekolah swasta yang bagus dan berfasilitas lengkap. Indonesia benar benar butuh perubahan.
Terapkan Bloom's Taxonomy, mulai dari yang terendah dulu: remember - understand - apply - analyze - evaluate - create. Jangan ujug2 langsung ke level tinggi kalau ingat (remember) aja enggak.
SANGAT SETUJUU. Smp banyak yg belum bisa literasi dasar(membaca) dan numerasi dasar (perkalian 1 sampai 9). Gimana mau paham, mengaplikasikan/ menganalisis materi pelajaran.😢
Dan aturan di bloom taxonomy itu sangat jelas "siswa harus benar-benar menguasai level pengetahuan untuk bisa naik level" Kurikulumnya udah dibikin sesuai sama bloom taxonomy, malah bikin aturan gk boleh tinggal kelas, gimana gk ancur😂 Dan lebih anehnya lagi, nadiem gk buang aturan ini.
@@Nnkhrsf8860 Setuju, hal tersebut merupakan satu kesalahan terbesar dalam belajar. Sumber: TH-cam Channel Kok Bisa? th-cam.com/video/1T2gaG5vPk8/w-d-xo.htmlfeature=shared
INI NIH, anggap aja kayak main game sebagai pemula, loh langsung main level tinggi ya otomatis kalah, harus belajar dari sangat awal untuk mengerti konsep dan cara bermain, lalu secara perlahan (atau cepat kalau bisa) berkembang sampai kamu bisa menang di level tinggi itu. Sama seperti pendidikan, harus belajar dari dasarnya dulu dan dimengerti untuk maju. Ya. . . masalahnya guru2 tidak menimbangkan kemampuan murid2 dalam mengerti konsepnya, asalkan mereka nggak remedial ulangan udah berarti mereka udah mengerti, padahal mereka hanya menghafalkan saja materinya tanpa ada analisi sekalipun. Pas SMP teman2ku udah sebanding, tapi pas SMA teman2 udah ketinggalan banget, kayak di matematika substitusi nilai sebuah variabel dalam aljabar aja mereka bingung, banyak yang nanya perkalian yang sangat mudah (4x6, 2x8, etc) ke aku karena cuman aku doang yang bisa (kita udah masuk logaritma smh smh)
Pendidikan di era sekarang: 1. Sengaja membuat pelajar menjadi lebih bodoh supaya mudah diatur (untuk menjadi budak korporat atau buruh gaji rendah yg tidak akan berani memberontak) kedepannya. Ingat ini: "orang bodoh akan mudah diatur dan diadu domba, sementara orang pintar akan sulit diatur dan cenderung memberontak". 2. Dijadikan ladang bisnis, ladang korupsi, dan ladang pencucian uang mau itu KJP atau dana BOS dkk. 3. Asal main copy-paste kurikulum dari berbagai negara karena fomo tanpa mau berbenah diri terlebih dahulu, tidak mau mengerti perbedaan SDM dan tidak menguji terlebih dahulu sistemnya. 4. Dipimpin oleh menteri yg gak tau apa-apa soal pendidikan akibat politik balas budi. 5. (Silahkan tambah sendiri) Edit di nomer 1 dikarenakan masih *ada* yg TIDAK PAHAM konteksnya 🤦♀️
Mau bayar kuliah disuruh pinjol. Sedangkan penyerapan tenaga kerjanya aja rendah. Amrik banget ga tuh. Keren emang pemerintah kita ngadopsi sistem amrik 👍🏻
Dulu mainnya abc 5 dasar, congklak, bola bekel, monopoli, sampai kartu remi/uno, dll yg mostly permainan2 ini tetep ngelatih otak untuk hapalan, berhitung, fokus secara simple. Nontonnya juga are you smarter than the 5th grader, laptop si unyil, otan sama yg lumba2 celana oren itu, magic school bus, raindrop yg tetes air vs kuman, jimmy neutron.... Agak berasa kayak lagi kuis kecil2an tapi menghibur gitu
Daripada merekrut guru banyak2 yg gak jelas seleksinya dan dipaksakan, mending rekrut TU banyak2 yg gak paham pelajaran, tapi bisa maen komputer, biar video penjelasan pelajaran diserahkan pada ruang guru. 😂😂 Dijamin anggaran kecil pasti sukses. Atau gak, serahkan kepada muhammadiah. Mereka swasta tuh, tapi malah sukses. Bubarkan aja kementerian Pendidikan, pake pola swakelola Pendidikan
mk ny ikutin pola pikir ortu luar yg ngebatesin gadget, anak indo mah masih piyik aja udh di cekokin gituan hahahahahaha ,ya anak ny bodoh atas didikan ortu nya tp malah nyalahin org lain. sekolah anak pertama adalah rumah dan guru pertama anak adalah orang tua.
Aduhh gara2 konten tiktok tanya awab dengan anak sma, saya jadi mau curhat. Saya kebetulan baru masuk jenjang SMA, dan masuk di negeri. Dalam masa pendidikan formal saya, baru kali ini masuk negeri, dan sebelum2nya masuk swasta. Saya mengambil jalur prestasi non-akademik, dan rumah saya jauh (beda kota). First impression.. kalau dibilang kaget, yaa... pasti kaget sih. Izin saya ceritakan. Saat pertama kali masuk (setelah MPLS), saya benar-benar semangat sekali, karena pelajaran MTK di jam pertama (hehe). Mulailah guru saya mengajar, pada hari itu beliau hanya mereview materi2 di SMP, sebab kata beliau materi SMA membutuhkan pemahaman dari materi SMP. Untuk bab pertama mengenai eksponen dan logaritma, pasti orang-orang sudah mengetahui bahwa eksponen merupakan pelajaran SMP, dan tergolong mudah untuk dimengerti. Saat guru saya menjelaskan, beliau menggunakan tempo yang lambat dan SELALU BERTANYA kepada kami (kelas saya) jika sudah mengerti atau belum, pastinya mengerti dong (atau itu dugaan saya saja). Setelah pemberian materi, kami dikasih latihan yang isinya HANYA materi yang disampaikan. Tak lama, 10 menit saya selesai, saya mengumpulkan ke guru saya. Saat saya menunggu pengecekan dari guru saya, saya sambil melihat keadaan kelas, waduh.. kagetnya minta ampun. Kenapa? Ternyata banyak banget yang main hp doang, apalagi posisi hp nya main game. Setelah pengecekan, saya balik ke meja saya. Ada 1 teman kelas saya yang duduk di depan meja saya tiba-tiba memutar balik badan dan bertanya "Ajarin no.1 dong, aku ga ngerti." Ya Allah, saya istighfar.. karena pertanyaannya sangat mudah sekali karena ini juga materi SMP, seinget saya soal-nya itu "Apa hasil dari x^1/2?" Walaupun begitu, tetap saya ajarkan, tetapi saya masih bingung, kalau dia tidak mengerti materi ini, mengapa tidak bertanya saat guru menjelaskan? Semoga kedepannya, pendidikan di Indonesia bisa maju dan menjadi lebih baik. Dan besar harapan saya, semoga banyak anak-anak/remaja sadar adanya kepentingan pendidikan dan tidak hanya bermalas-malasan. Maaf jika ada salah kata yaa hehe
Di bilang SDM rendah marah, tapi liat kenyataan nya pada generasi muda sekarang miris, pengetahuan umum aja gak tau, Pancasila gak hapal, apalagi soal bertutur kata yg sopan seolah jauh dr generasi muda kita, sedih... Mau di bawa kemana masa depan bangsa kita
@@whammusilvesterado529 waduh, statement ini sebenernya kalo beneran terjadi tanda mau hancur. salah satu indikator menuju kehancuran itu adalah diamnya orang yang punya kapasitas.
Setelah menonton video ini sebagai anak kelahiran 90an, saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan dan kurikulum zaman saya sekolah dulu. Walaupun tak sempurna tapi tak sebobrok yg sekarang. 🙏🙏🙏
ya pendidikan dulu lebih baik cuma implementasinya di kehidupan sehari hari ga maksimal karena minim kesadaran.. kalau anak sekarang lebih banyak ga sadarnya 😂😂😂 ngeselin sumpah
Plus katanya setelah ditiadakan UN sekarang orang dari indonesia gak bisa masuk kampus di luar negri karena atau gimana gitu. Pokoknya jadi lebih sulit
@@ShalahuddinMYusuf temen saya yg guru SMP juga pernah cerita kalo ada muridnya yg masih ngeja kalo baca. Kan sedih liatnya, kemampuan dasar seperti membaca aja masih belum fasih dan menguasai terus bagaimana mau mengerti dan memahami materi pelajaran yg lain dengan tingkat kerumitan yg pasti meningkat seiring naiknya tingkatan pendidikan (kelas dan jenjang). 😔😔
coba kita breakdown (MUNGKIN) : 1. sistem pendidikan mau dibebaskan, malah jadi bingung semua karena dibebaskan 2. kurikulum baru terus, sekolah malah sibuk belajar administrasi baru daripada mengajar 3. orang tua lebih malu anak tidak naik kelas ketimbang anak gak bisa apa² 4. guru sulit memberi nilai karena terlalu sering dapat intervensi orang tua karena zonasi rumahnya pada deket² bahkan ada anak yang orang tuanya juga guru senior di sekolah lalu menekan guru junior supaya nilai anaknya dibagusin. 5. anak terlalu sering jam kosong karena guru² sibuk rapat, kombel, dll bahkan sibuk urus administrasi, sertifikasi, dll 6. anak kurang diperhatikan orang tua di rumah, orang tua banyak menganggap anak udah pake seragam ke sekolah berarti sudah belajar 7. fasilitas sekolah kurang memadai karena banyak sekolah yang masih bingung mengelola keuangan dana BOS beserta sistem administrasi nya 8. monggo diterusin..
Sebagai org yg pernah gak naik kelas 2x di SMP jaman 2007 gw rasa masih ok2 aja karier gw karna dulu IPK gw 3,3 wkwkwkw malu karna pernah gak naik iya tapi gak nutup kemungkinan dapet kerja apa engga sih karna yg dilihat skill dan kemampuan dibidang kerja. Aneh emg malu karna gagal, gagal itu harus ada supaya belajar tidak gagal lagi dan jadi berhasil.
Kurikulum baru kyk nya lebih cocok sama sekolah top kyk bpk penabur, mh thamrin, dsb, karena bisa belajar sendiri + pintar dari sananya Kalau diterapkan pada sekolah biasa atau terpencil, bakalan kewalahan, krn bingung dgn materi dan cara belajarnya, apalagi banyak dari mereka yg kesulitan membaca, menulis bahkan beberapa mereka aja, ada yg abk (kek tunanetra, tunarungu, dll)
ane lanjutin (EMANG DI DENGER?) : 8. Sekolah di jadikan ladang bisnis.. dan segala sumbangan bersifat wajib dan uda di tentukan dri sana nya kek sumbangan PMI.. bukan suka rela (coba cek beritanya) 9. Birokrasi di dunia Pendidikan kacau balau.. you get the point? 10. Informasi tentang Kegiatan sekolah sering ga jelas dan mendadak.. guru yg satu bilang A.. guru B bilang B.. dan kepsek bilang Z.. kadang bisa berubah-ubah 11. oknum kepsek kadang Korupsi 12. silahkan lanjutkan.
Buat Pak Nadiem Dengan segala respect Pak, jika Bapak mau peduli sama sistem pendidikan Indonesia Ga perlu 2 periode Pak untuk tahu bahwa sistem yang Bapak terapkan itu GATOT / GAGAL TOTAL Terimakasih Pak sudah membuat Sekolah Negeri menjadi Bobrok dan membuat seakan2 tidak ada pilihan kecuali Sekolah Swasta yang Harganya dimainkan semau mereka Terimakasih ya Pak Nadiem Jaman saya sekolah dulu, Sekolah Negeri adalah favorit masuk dan Sekolah Swasta hanya bagi mereka yang ga bisa masuk negeri dan berani membayar lebih Namun Sekarang ? Terbalik 180 derajat berkat kinerja Bapak Bravo Pak Nadiem
Saya berkomentar dari kacamata guru 1. Maksud pak nadiem baik ingin pendidikan maju seperti finland, tapi pak nadiem lupa kesenjangan di Indo sangat sangat tinggi dlm segala aspek termasuk siswa a dgn b, sekolah a dgn b, ortu a dgn b. Mungkin yg bsa mengikuti penerapan kumer dgn maks hanya sekolah2 di kota besar saja (yang kelasnya sehat tidak gemuk) 2. Apa fungsi nyata PGRI dlm dibentuknya kurmer? 3. Guru administrasi dan tugas tambahannya banyak, bagaimana mau kerja ngedidik kalau sibuk ngurus administrasi harian, bulanan bahkan naik pangkat dll. Kalau saya disuruh milih ngajar / selesaikan administrasi tentu sy realistis sy selesaikan administrasi. Karena kalau administrasi tdk beres, gaji dan tunjangan saya bisa tidak cair. 4. KTSP (mapel) K13 (tematik) KUMER (mapel) otomatis BELI BUKU PAKET BARU BUKU LAMA TERSISIH DI GUDANG = PEMBOROSAN ANGGARAN 5. Siswa tidak naik kelas = tidak bagus utk sekolah = dinas = masalah. Jadi ? Naik kelas saja biar tidak masalah
finlandia, gaji guru gede bos, murid pun difokuskan sesuai skill fokus nya masing-masing, gak ada peringkat, bukan jadi nomor satu tapi jadi satu satunya, gak ada pembully-an di finlandia, APANYA YG INDONESIA NERAPIN SISTEM FINLANDIA? TOLOL KOK DIPELIHARA, AYAM DIPELIHARA ADA TELORNYE.
Mama saya seorang guru umur 57, tiap pulang sekolah dan hari libur pegang laptop untuk admin sekolah, not to mention all papers and equipments are upon personal expenses. Beliau tertekan karena terlalu banyak admin yg harus d selesaikan.
Bener temenku juga guru dia ngeluh terus soal administrasi yg harus dikerjakan belum anak didiknya yg dia ngrasa gagal dalam mengajar dan belum tekanan keluarga juga.
3:25 keliling indonesia buat identifikasi problem sistem pendidikan kalau diagendakan oleh kemendikbud butuh baiya berapa tuh? Lah ini uda Ferry modal sendiri, se serius itu riset nya. Makasih da Ferry mewakili tugas kemendikbud secara cuma cuma 😢
bahkan utk mengetahui problem pendidikan di indonesia kita tdk harus repot2 keliling indonesia,cukup kita melihat di sekeliling kita ditambah sedikit baca2 artikel dan berita kita bisa tau masalahnya
Gw inget ada yg posting meme tangga gtu di twitter mu bang, Kita perlu ngurusin 1. Kesejahteraan guru 2. Kesetaraan fasilitas 3. Peningkatan kompetensi guru 4. Pembentukan kebudayaan berliterasi 5. Baru ngomongin adopsi sistem finlandia Nah pemerenteh kita naek tangga dari 0 sampe ke 5 langsung
@@blepblep7245 menarik nih untuk dikaji. Selain demo, ada gak si suatu cara biar pemerintah itu bisa menampung aspirasi maupun kritikan kita? Harusnya diadain ni, jadi cakep. Demi kemajuan negara kita.
@@dimasbesaralex5586 susah sih. program bgtu hrs dtg dr pemerintah yg mau mendengarkan rakyatnya. sementara itu pemerintah kita dah di demo jg kea pura2 tuli aj.
Sebagai korban zonasi 2019, sempet depresi dan sampe kebawa sekarang kuliah, aku mau ngomong, TOLONG VIRALKAN GAGASAN INI sampe dilirik sama stakeholder yang berkepentingan!
sama nih korban zonasi jg wkwk, semangat ya kak kita harus menerimanya mau gmn pun udh lewat tapi semoga aja adek2 dibawah kita ini ga ngerasain jadi korban zonasi. Semoga pemerintah apalagi mentri pendidikan bisa sadar.
Hal yg benar2 saya ingat dulu tanpa gadget, tanpa teknologi terkini saya semasa SD sudah mampu membayangkan bagaimana negara2 di wilayah Eropa dengan memahami peta, tata letak, nama negara, dan hal2 yg erat kaitannya dengan materi tsb. Dan kini saat saya ceritakan, saya ajarkan kepada anak saya begitu sangat2 menyedihkan dia bahkan tidak paham peta negara Indonesia sendiri, lantas bagaimana mau memahami negara lain 😢
Bang gue ngikutin lu sejauh ini, gue lumayan bisa nangkep logika berfikirlu. Gue berharap orang2 kaya lu bisa bikin indonesia lebih baik dari dalam kursi pemerintahan. Gue usia 29thn lulusan S1 Ekonomi di Univ swasta yang gak terkenal sejauh ini pun belum bisa ikut kontribusi apapun buat negara 😢 sedih rasanya liat kemajuan pendidikan di indonesia yang gue rasa malah makin mundur dari zaman gue dulu, mulai dari biaya yang makin mahal, sama lulusan sarjana yang justru tidak lebih baik taraf hidupnya sekarang. 😢
Daripada niru sistem Finlandia.. mending Indonesia niru sistem Vietnam aja sih. Saya pernah liat video ada yg bahas kenapa sistem vietnam bisa jadi bagus, itu karena sekolah di sana fasilitas baik di kota dan di pelosok sama semua, kemudian para guru disejahterakan baik yg di kota atau dipelosok jadi mereka tinggal fokus untuk mengajar. Kalau di sini kan nggak.. guru2 negri dan swasta yg biasa2 gaji minim murid tambah banyak trus ditambah embel2 "jangan diliat gajinya tapi liat jasa2nya nanti", eh di wakandagakure pejabat malah disejahterakan.. terus minta murid2 kita hasilnya bagus.. cara berlogikanya gak masuk di saya.
Terserah aja sih. Tapi aku yakin banget sih setelah niruin sistem pendidikan vietnam ujung2nya kacau lagi 😏. Dan kemudian ada postingan sosial media yg nunjukin negara yg sistem pendidikannya sukses kemudian netizen minta indonesia niruin sistem pendidikan negara tersebut dan siklus pun berulang lagi dan lagi 😌.
Saya suka kata-kata dari bang irwan prasetyo "kalo merasa diri masih miskin dan bodoh, ya pendidikan harus 2 atau 5 kali lebih banyak dong, kaya korsel dan china", hasilnya bisa kita lihat, mereka jadi negara maju
Permasalahannya sistem korsel dan china itu tergolong "instant" Dan dampaknya akan sampai terhadap mental anak-anaknya (stress karena tekanannya gede) jujur saja daripada pake sistem itu dan ujung-ujungnya anak-anak malah ngeluh, mending kita ikut barat(tahu sendiri mereka membangun pendidikan lama banget dan itu berabad-abad tapi kalian bisa lihat sendiri hasilnya gimana) dengan begitu juga, murid-murid belajar di sekolah bukan untuk nilai saja tapi untuk mengubah cara pemikiran mereka dan diharapkan dapat divisualisasikan dalam kehidupan mereka. Disclaimer:saya gak peduli Indonesia mau pake sistem asia Timur atau pun barat, karena saya tidak punya otoriter saya hanya ingin fondasi pendidikan kita saja merata karena itu lah yang mempengaruhi sistem kita ke depannya.
@@omaygad245 menurut gw Indonesia blm siap untuk ngadopsi kurikulum barat, karena pd dasarnya orang2 sini msh mengidap pemikiran dogmatis tanpa mengedepankan rasionalitas dan individualisme. Jadi, selama mental masyarakat Indonesia tidak berubah, satu-satunya cara paling realistis menurut saya untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan mengikuti kurikulum asia timur karena sdh terbukti bisa mentransformasi Korsel, China, dan Jepang menjadi setara dgn negara barat dalam kurun waktu 30-50 tahun saja. Kembali lagi, apakah Indonesia berani mengorbankan rakyatnya?
Saya guru smp negeri yg hampir pensiun. Cuma bisa berharap menteri baru bisa mengurai masalah pendidikan yg rumit satu demi satu. Memberi solusi yg lebih bisa diterima dan memperbaiki mutu pendidikan kita. Saya juga mengajak semua untuk bersabar, agar pak Abdul Mukti bisa menentukan kebijakan yg terbaik buat anak anak kita.
Ane 27th. Di tongkrongan ada bocah esema yg baru lulus kemaren. Dia nongkrongnya ama kita yang tuwir-tuwir. Kita ghibahin janda desa, dia ngerjain PR-nya. Sempet ane tanya, "Kok ga ngerjain bareng temen sepantaranmu?". Dia jawab," Ngga bang. Mereka gada yang ngerjain PR. Paling kalo ngerjain juga itu AI semua." Mantab!
Bantuin bang,saya dan istri juga pusing bantuin anak anak tetangga udah kelas 5&6 sd gak bisa hitung dan perkalian dasar 100,bahkan ada yang kesulitan nulis.setiap kali kami tanya anak anak itu selalu jawab guru rapat kami hanya di suruh buka LKS dan ngerjakan tugas tanpa bimbingan. Kami bukan guru bukan pula orang tua anak anak itu tapi kami pusing 7 keliling.
gw beberapa minggu lalu tiba² didatengin tetangga minta tolong buat ngajarin anaknya baca tulis. gw kira anaknya yang paling kecil (masih sd kelas 1) ternyata anaknya yang paling gede (7 smp). gw langsung shock karena ternyata kasus separah ini ada di deket gw
FYI sy kerja di lingkungan pendidikan.. Sharing aja fakta yg sy temui 1. Saat uji kompetensi sertifikasi guru SD, dalam satu kelas ada yg tidak bisa mencari rata rata.. Kalau jadi guru kemudian apa yg diajarkan kalau Guru saja tidak bisa pembagian. guru dijawa tengah, gurunya relatif sepuh. 2. Anak kuliah tidak bisa penjumlahan puluhan, misal 27 +56... anak kalimantan walaupun cuma 1 (walau tidak bisa digeneralisir) 3. Anak kuliah dari indonesia timur mostly kesulitan mengejar studi di perkuliahan dan butuh matrikulasi pun tetap berat akhirnya dioper ke PRodi yg basic seperti PGSD. Dugaannya SD, SMP, SMA disana fasilitas kurang. 4. Banyak guru militan yang bersedia mengabdi didaerahnya (luar jawa) tapi mohon fasilitas dan perhatiannya thd kesejahteraan guru. dari diatas menunjukkan adanya GAP dan juga rintangan yg belum bisa dihilangkan. BTW terimakasih sdh bersuara, takutnya Gen Z atau apapun itu jadi takut kalau tidak kompeten didunia kerja.
Betul mas permasalahan nya bukan cuman sistem ya, soalnya saya pernah bantu guru buat bikin modul ajar dan cp atp mau akreditasi karna dia gabisa apa2 bahkan ngetik dan ngedit pun masih kebingungan padahal masih muda, saya bukan orang pendidikan jadi tidak tau sepenuhnya sistem guru mengajar bagaimana tapi setelah melihat kayaknya tanggung jawab yang ingin menjadi guru masih kurang juga terus kan ada cp dan atp harusnya pelajar yang kurang terlihat tidak sesuai bisa dievaluasi kan apa dibuat cuman pas ada akreditasi doang?? Saya gatau sih maaf kalo salah
Tolong selamatkan generasi gen alfa, bayangkan mereka di masa depan teknologi semakin canggih, mereka jadi apa kalau sistem pendidikan seperti ini terus.. 😮 menuju indonesia cemas
Gue kelas 12 sekarang dan udah bener2 muak sama yang namanya sekolah. Temen gue bilang benci sama yang namanya koruptor, wkwkwk. Tapi apa? Mereka malah ngebudayain nyontek. What the hell. Otakmu gunain dong, gue keselll, muakk, apalagi sama anak yang nanya tugas padahal tugas itu piece of cake wkwkwk. Kalau ngga di kasih contekan tantrum. Sedih kalau ngeliat orang-orang kayak mereka, miris banget ya pendidikan Indonesia😢
Mau cerita gw lulus SMA satu tahun lalu, fyi sedari SD sampai SMP gw selalu berperingkat karena semangat belajar gw tinggi, sebelum suatu materi dijelaskan oleh guru gw udh mempelajari duluan materi tersebut dirumah, jadi semisal ada jamkos pun gw gak main main kaya org lain, gw lbih milih buat ngerjain soal yang sempet kelewat sama guru, baru ketika guru ada waktu luang gw bertanya apa yg gw belum faham soalnya materi yang dilewatin tersebut. Masuk ke SMA, lebih tepatnya gw SMK kejuruan, disini gw kenal yang namanya handphone, karena kondisinya juga korona yang mengharuskan belajar daring. Dari sini gw kenal game kenal laki" kenal pergaulan yang lebih frontal. Dan hasilnya bisa dibilang iq gw nurun. Gw males ngerjain pr dan lebih milih untuk nyontek jawaban. Bener" berbanding terbalik sama gw yg dulu Setelah daring selama satu setengah tahun perlahan" mulai belajar tatap muka, singkat cerita masuk kelas 12 yang makin banyak praktek tetapi juga makin banyak jamkos, orang" pun pada meremehkan jam kos karena pikirannya hanya yg penting bisa praktek. Toh pasti juga di lulusin Jadi pesan gw untuk lu tetep semangat belajar, jgn ikutin pergaulan toxic, jaga kesehatan dekati teman" yg baik,, gapapa temen sedikit yg penting ga merugikan untuk lu
Gw seorang guru, dan sumpah gw merasa tersiksa dengan model pendidikan sekarang, siswa susah banget diajarin, menurut gw adalah siswa sekarang terlalu dimanjakan dengan kurikulum yang ada. Pendidikan Finland sangat tidak cocok menjadi acuan kita, menurut gw kita seharusnya jadikan India atau Korea Selatan sebagai pembelajaran, mereka bukan meniadakan ujian, tapi malah membuat ujian menjadi patokan pendidikan sehingga siswa memiliki keinginan belajar agar lulus ujiannya. Keadaan memanjakan siswa justru menjadikan siswa kita lemah, lembek dan bodoh. Tantangan yg salah satunya adalah ujian harusnya muncul untuk membuat siswa kita menjadi tangguh.
Bukan masalah kurikulum lebih ke peran orang tua, pendidikan pertama yaitu dari orang tua, bnyk ko klo kita lihat study case nya apa aja, luas bukan hanya kurikulum, liat manusianya juga, lingkungan nya, kita bisa lihat ko negara-negara maju bisa ko mendidik generasi mudanya, hanya saja lingkungan untuk anak-anak di Indonesia sangat abstrak terutama fasilitas untuk pendidikan, sedih sih klo liat secara luas pendidikan Indonesia sulit berkembang dan maju karena mafia nya
Balik lagi seperti dulu. Tinggal lagi permasalahannya bisa jujur tidak saat ujian. Kalau ujungnya2 guru kasih kunci jawaban seperti UN dulu ya sama saja.
anak nya mental tulang lunak belum lagi ortunya ribet nga bole ini nga bole itu, israel lah apa lah butuh pemimpin egaliter tangan besi biar di libas asn malas, murit malas indonesia darurat malas
Bukan masalah ujian ibu guru tetapi masalah psikologis pernah kah anak ibu dibandingkan dengan orang lain diatas padahal anak ibu sudah belajar mat* mat*an Al hasil anak anak menjadi optimis tapi menjadi persimis trus di Korea itu jam 09 malam baru pulang sekolah loh apakah ibu tega menyuruh anak anda sekolah sampai jam sembilan malam pas pulang di suruh belajar lagi.
benar kata prof stella christie, tujuan dari studi banding ke negara lain itu bukan untuk MENJIPLAK sistem pendidikan negara lain, tapi sebagai variabel dan sampel pembanding, jadi pembanding itu butuh variabel dan sampel yang lain, dengan perbandingan perbandingan itu nanti diperoleh formula yang pas untuk diterapkan dengan melihat realita keadaan di negara kita yang pastinya berbedadengan negara lain
menurut saya : sistem pendidikan di jepang lebih tepat jika diterapkan di indonesia,dimana sejak kecil dilatih untuk mandiri, disiplin,tertib,saling menghargai orng lain baik itu di lingkungan sekolah,kelas/luar sekolah jd ketika anak tsb sudah dewasa akan menjadi individu yg berkualitas yg faham betul tertib aturan
Sekolahku dulu setengah menerapkan pendidikan Jepang. Diajarkan menyapu, mencuci piring, menyetrika pakaian.. sampai ada orangtua murid geruduk sekolah, mereka protes katanya orangtua sudah bayar mahal mahal masuk sekolah, di sekolah anak diajarkan jadi pembantu 😅 habis itu pelajaran practical life ini ditiadakan sementara sampai ada hasil mediasi
keren bang, memang harus kayak gini biar pada ngerti. karena untuk memajukan pendidikan tidak hanya terfokus pada sekolah tapi perlu support dari pemerintah maupun masyarakatnya.
Iya tp Prof Mu'ti kebagian yang pendidikan tingkat tingginya, tp gpp, wakilnya juga seorang praktisi di dunia pendidikan, semoga ada secercah harapan untuk pendidikan kita
Sistem zonasi membuat anak2 berprestasi yg rumahnya jauh dari sekolah negeri putus asa... Kenyataanya hanya peringkat satu dan dua yg berpeluang ke negeri lewat jalur prestasi. Anak yg dekat sekolah negeri gk usah belajar cukup absen saja dijamin masuk negeri... Sekolah swasta menengah ke bawah fasilitas amat sangat jauh dari sekolah negeri.
Kembalikan UN, Kembalikan jiwa dan semangat siswa yang kompetitif. Kita harus bangun anak-anak yang siap bersaing dan tidak takut bersaing. Toh, dalam kehidupan mereka nanti mereka akan menghadapi persaingan hidup, persaingan mencari pekerjaan dan persaingan dalam segala sesuatu.
UN buatan zionist hanya pembodohan. Membuat sekolah harus meluluskan siswa dengan cara yg curang. Kembali ke kelulusan yg menilai hanya guru. Sebab guru yg tahu perkembangan anak di kelas.
Efek zonasi. Menipu alamat KK. Dan siswa disekitar sekolah rata rata pemalas. Karena kemudahan masuk PPDB zonasi. Giliran tugas entah pribadi atau kerkom ga mau ngerjain.
beh goblok dn tolol aja naik kelas Jaman gw dulu kalo gak bakal naik kelas Jaman adek gw TK yg gak lancar baca tinggal kelas di TK b Ada yg ngulang 1 tahun karena blm bisa membaca
Mengkaji ilmu itu harus jauh dari pengaruh kompetitif, kompetifif itu mental budak bukan pencari ilmu. Baru 3 tahun, belum ada statistik dan perbandingan aja udah gak sabaran
menurut ku jika ingin memperbaiki pendidikan di indonesia itu hal yang pertama di tangani itu ekonominya dulu. karna guru yang paling utama untuk seorang anak itu adalah "ORANG TUA", ada banyak orang tua yang kurang mampu untuk makan pun susah dan bagaimana mereka bisa memperhatikan anaknya sedangkan setiap hari mereka terfokus untuk mendapatkan sesuap nasi, setiap sepulang mencari sesuap nasi mereka kelelahan sedangkan penghasilan yang di dapatkan hanya cukup untuk 1 hari saja, bagaimana bisa mereka berpikir tenang mendidik anak anak mereka, memperhatikan anak anak mereka sedangkan hal yang mereka pikirkan "BAGAIMANA BESOK BISA MAKAN!!!!". Mungkin bagi anda yang memiliki ekonomi yang stabil berpikir pendidikannya yang salah, karna orang tua anda juga ikut berperan dalam mendidik anaknya dan tidak perlu memikirkan " "bagaimana bsok bisa makan"
bang konten lu bagus-bagus, selalu mengedukasi, tapi plis, dengan lu membawakan acara sambil MEROKOK menurut gw kurang pantas, karena banyak juga anak pelajar yang menonton ini, dan seperti menormalisasi prilaku meroko itu sudah menjadi hal yang baik2 saja
Alih-alih pake Kurikukum Merdeka, pakai aja sistem kurikulum realistis dan logika. Mengedepankan pemanfaatan lingkungan dan memaksimalkan kemampuan baca, tulis dan hitung. Sisanya peserta didik diberi gambaran banyak keahlian yang bisa diraih dengan belajar. Memfokuskan pada skill ketimbang laporan bulanan yg isinya blom tentu sama dengan praktek kerjanya.
Bang Ferry adalah penyampai keresahan masyarakat terbaik hingga saat ini, semoga dapat diterima dengan baik oleh yang seharusnya menerima dan berdampak dengan benar seperti bagaimana mestinya 🙌
Anak SMA gak bisa baca gak masalah dari pada dia gak bisa baca gak sekolah depresi jadi gembel merdeka pemerintah makin merajarela korupsi merdeka korupsi..!!! 👍👍👍
This is real....saya pengajar di SMA. Dan 3 th terakhir, saya makin terkejut, karena semakin banyak siswa yg belum lancar membaca, bahkan beberapa diantaranya masih mengeja. Masalah hitungan, begh...."42-39=...." gak ada yg bisa jawab. Pas ditanya, "kok gak ada yg jawab?" Jawab mereka "Kn 2 gak bisa dikurangi dg 9, bu" 😮 Oh....penalarannya kemana....😢 Kelas 10 lho itu.....SMA kelas 1..... Gimana guru gak stress, kl murid yg dihadapi seperti itu.....😢😢😢
Duh kok serem banget Bu , makanya anak saya dr TK sudah saya didik sesuai dengan apa yg saya pelajari sewaktu saya sekolah dulu, pas kelas 1 SD anak saya sudah hafal perkalian , sampe sekarang sudah kelas 5 SD anak saya sudah saya ajarkan pecahan campuran, pembagian , sampe anak saya nyeletuk, " kawan-kawanku aja belum hafal perkalian Mak, tapi aq udah mamak ajarkan pembagian" ,. Walaupun di sekolah anakku ga seburuk yang di berita2, dimana disitu untuk kelas 1 di semester pertama itu di fokuskan untuk calistung, setelah itu barulah mulai masuk pelajaran2 yg berat. Jadi kayaknya ini masalahnya ada di anak yg terlalu di biarkan atau orang tua yg merasa, ah ngapain cape2 ngajarin, toh udah pasti lulus, . Maybe , just my opinion Bu guru .
@@rahayuwindayani4316 oh... Bisa jadi karena minimnya pengetahuan orang tua utk khawatir dgn kemampuan anak.... Balik lagi ke MINIMNYA EDUKASI PARENTING di lingkungan masyarakat....
@@rahayuwindayani4316 tidak semua ibu atau bapak punya kesadaran untuk mendidik anaknya dengan baik, karenanya itulah peraturan dan sistem pendidikan dibuat untuk mengatasi tantangan yang ada. Seandainya orang tua kebanyakan seperti ibu maka bagus, tetapi kenyataan tidak demikian. Dan anak SMA ga bisa hitung itulah dampak dari sistem pendidikan sekarang ini..
gw kepala sekolah baru, dan emang sejak gak ada sistem tinggal kelas, banyak banget penurunan kualitas murid. bahkan ada anak kelas 6 baca tulis aja masih sangat lelet dan bahkan pas ujian gurunya harus membacakan soal. Ada siswa yang kurang layak naik kelas malah terpaksa untuk nilainya di-kkm-kan. hadeuh
Sebagai anak seorang guru, salah satu kekurangan sistem ini ada pada terlalu banyaknya hal administrasi yang d kerjakan para guru, jadinya sibuk ngurusin itu , padahal tugas utama nya adalah mengajar anak didiknya, dan harus fokus bagaimana mencerdaskan anak didiknya .
Gak cuma di sekolah sekolah, saya pns di kementerian, cuma disibukkin urusan administrasi aja, dan kebanyakkan yg ngerjain non-pns, sebagian besar dari mereka gak bantu urusin substansi. Jadi gimana negara ini mau maju, karena gak diurusin sama pemerintah nya.
@@babygamingyt4556harusnya ada struktur jelas di sekolah, siapa yang sebagai orang lapangan / guru, siapa yang sebagai pengurus administrasi / admin, siapa yang sebagai penentu kebijakan / kepala sekolah & comitte. Kayak struktur perusahaan. Jadi guru hanya mengerjakan administrasi sebatas membuat laporan apa yang diajakan ke murid untuk hari ini & sisanya di inputkan dan di susun oleh admin sebagai bukti administrasi. Lalu untuk penyusunan kurikulum bisa di sushn oleh penentu kebijakan dengan dibantu oleh guru2 lapangan
Merdeka Belajar ini sangat membantu gw banget sih, mungkin ini khususnya anak "Kuliahan", Program Kampus Merdeka, bisa ikut MSIB,Magang, Study exchange domestik/internasional,Mengajar,dll, dan ini bisa di lakuin sebelum semester 7, jadi 5,6, udah bisa ikut, yang mana menurut gw ini keren banget sih, karena materi di kuliah terlalu luas, dan dengan ikut kampus merdeka bisa mempersempit minat dan lebih intermediate dibanding materi kampus, tapi dengan berita2 sekarang, semoga aja jangan kena stop kampus merdekanya, tapi gw setuju sih untuk SLTA kebawah untuk diubah, karena udah beda konteks, anak kuliahan tanpa kampus merdeka pun memang sudah bebas, mahasiswa nya masing2 yang menentukan, tapi yang dibawah itu masih labil parah.
Bapak dan ibu gw pensiunan guru di th 2021, banyak fakta2 buruk di dunia pendidikan dengan sistem sekarang. 1. Sistem zonasi, ada 1 SMA yang calon siswa mau masuk bisa lewat jalur belakang by kepsek. 1 kursi 10jt. Dan waktu itu ada 12 an calon siswa. 2. Semua nilai siswa sejelek apapun wajib KKM. Misal nilai asli 25, di raport tetap tertulis KKM 75. Karena jika banyak siswa yang nilainya jelek grade sekolah akan turun dan dapat teguran dari dinas. Fyi pas gw bantuin garap nilai raport, nilai si anak2 ini rata2 25-50 aja, per kelas cuma ada 1-3anak yang sedikit fiatas KKM 3. Wali murid selalu bela anaknya tidak peduli apapun kesalahannya. 4. Guru sedang menerangkan materi dan siswa main hp sendiri adalah pemandangan biasa 5. Tidak boleh terdapat siswa yang tidak naik kelas Dan masih banyak lainnya
iya ini fakta bu, saya denger langsung dari ortu yg bayar agar anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut. kalo naikin KKM itu benar adanya karena suami saya guru, nilai 0 aja di rapot jadi 70...sediih, sya lihatnya, sekarang suami saya tidak lagi di sekolah dan milih bimbel aja karena manipulasi nilainya paraah...
Dengan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak jelas seperti ini. Pada akhirnya sekolah hanya menjadi ladang bisnis dan murid menjadi alatnya. Kadang siswa yang tidak tau menghitung dan baca dipaksa naik kelas dan lulus. Indonesia mau dibwa kemana dengan generasinya seperti ini😢
Waktu itu nyuruh anak-anak SD belajar dan menghafal, dan jawaban mereka 🧒: ga usah belajar lah sampe bel main bunyi 🧕: mau jadi apa kamu ga belajar? (Kesel, marah) 🧒: halahh buk kami jawab soal ujian ngasal aja tetep naik kelas kok, kan sekarang ga ada yg boleh tinggal kelas. 🧕: ga bisa berkata-kata lagi😢 Ayolah utk Mentri pendidikan buat sistem UN dan tinggal kelas biar daya saing diantara peserta didik itu ada
Yep, dengan adanya UN dulu kami siswa sgt semangat belajar demi dapat NIM yg tinggi spy bisa masuk ke SMP terbaik. Benar" belajar keras. Skrg, Zonasi aja bisa masuk ke sekolah terbaik maka tdk ada lagi istilah SMP/SMA terbaik yg menghasilkan murid" yg berkualitas. Skrg menurut saya, sekolah Swasta adalah yg terbaik utk pendidikan anak" skrg.
yups, agak kaget juga waktu pertama ngajar, ada anak kurang bngt untuk naik kelas, wali kelas udah mutusin buat sianak tinggal kelas namun dari kepsek bilang "udah gpp di naikin aja, makin cepat lulus makin bagus"
Menurut ku UN perlu, tapi standarnya jangan terlalu tinggi agar tidak ada jual/beli kunci jawaban pada siswa dan guru... Dan Sistem tinggal kelas itu penting sekali untuk siswa yg memang belum mampu..
Kelas 3,4,5,6 teman anak2ku jg masih banyak yang blm bisa baca tulis dgn baik & lancar . Sering tidak masuk kelas jg bisa naik kelas .. Mau gak mau guru terpaksa memberikan siswa naik kelas .Jd tidak ada semangat belajar siswa2 itu...
Hendaknya orang2 seperti sdr Ferry ini lah yang diangkat jadi menteri, atau wakil Presiden. Cerdas dan punya ide utk mengangkat derajat bangsa ini. Semoga next time, Insyaallah. Aamiin.
lebih baik begini bang ferry,berdiri sendiri sebagai kritikus publik mengenai kejanggalan yang terjadi di negeri ini,kalau sudah masuk mungkin saja bisa tapi mungkin tidak akan lama,karena sudah menjadi rahasia umum bahwa politik kita sudah benar benar kotor,maka dari dengan berdiri sendirinya bang ferry jadi tidak bisa di setir maupun dikontrol oleh orang orang yang ada yang lebih tinggi kedudukannya dalam politik Negera ini
Pentingnya Menteri Pendidikan yang minimal pernah jadi Guru, supaya tau arus bawah itu bagaimana, bukan hanya riset dari sekolah yang maju lalu sampling, dan akhirnya di terapkan merata di seluruh sekolah yang memiliki latar belakang daerah yang berbeda-beda..
Finlandia & negara2 Nordik itu basis kulturalnya Kristen, jadi mereka punya internal drive. Belajar karena mereka sadar pentingnya ilmu, bukan karena takut hukuman. Sedangkan kita negara2 Asia kulturnya lebih ke azab-pahala, atau karma baik-karma buruk. Untuk kita lebih cocok kurikulum seperti di China yang keras & disiplin. China yang negara besar saja muridnya sampai diperes biar belajar mati2an sampe stres, di sini malah dibebasin & pasti naik kelas meskipun malas2an 😅
Lagi juga geblekk bocah konoha disamain dgn kultur finlandia 😂😂😂, ras beda, intelejensi beda, kultur beda, agama beda, bangsa beda, moral dan ahlak beda, kesejahteraan apa lg bagai langit dan bumi, habit juga beda, dan pejabat konoha samain itu semua dgn harapan hasilnya plek ketiplek mirip murid finland, ASLI GOBLOKK TULEN😂😂 Kemaren jamam SBY udah bagus ada ujian UN malah protes katanya menghancurkan masa depan anak 😂😂😂
Nah, dulu presiden sebelumnya yang nunjuk, bilang dari kalangan profesional, ekskutif. eh dari ojol... bukan basic pendidikan minimal guru atau dosen atau profesor. haadeeeuh...
Nahhh mas nya ini yg pantas jadi mentri pendidikan bangsa kita...faham betul dan berani riset keliling indo selama 5 tahun pula... Semangat mas kritik terus soal pendidikan di negeri ini
can't agree more, punya saudara SMA masih belum hafal perkalian, mau dipaksa dengan dilatih tebak"an, juga ga mempan ke dia, akrena mau hafal atau ngga, ga ada efeknya. DIa tetap naik kelas dan bisa ngelanjutin sekolah pake zonasi. Kalau udah banyak kejadian kaya gini bukan individunya lagi yang kita salahin, tapi sistem dan kurikulumnya.
Indahnya sekolah jaman tahu. 90 an, guru2 yg ngajarin detail bgt menerangkan trun sekolah juga semangat untuk belajar sekalian bermain waktu istirahat 😅
Dari apa yang ibu deksripsikan tentang sekolah pada jaman 90-an, saya sebagai murid dari dekripsi tersebut tidak ada pembeda yang signifikan, kami juga masih bisa bermain, guru detail? Itu masalah perspektif dan masing² guru saja.
Memang hebat dua periode kemarin itu, anak-anak sekolah minim kompetisi, guru-guru sangat santai dalam mengajar bahkan tak perlu ada murid pintar semua dijamin tidak tinggal kelas dan tetap lulus sekolah. Pentas seni masuk kurikulum menjelang kelulusan siswa yang kadang butuh biaya mahal. Acara cerdas cermat di televisi sudah lama hilang, olimpiade matematika, fisika sudah tidak populer. Yang lebih miris malah judi online dan pinjaman online yang semakin marak.
Gila gw sedih bgt sama kondisi negeri ini, para pejabat kebanyakan udah gak peduli sama rakyat malah beberapa youtuber yg lebih peduli salah satunya bang Ferry ini. Dalam situasi kayak gini mereka bisa dibilang pahlawan sih
Yup bener nih, minimal tes pengetahuan umum. Ini bisa jadi solusi kalo nanti UN masih ditiadakan. Yaa minimal sekolah tau nih kemampuan si anak, dan si anak masih ada rasa bersaing. (Yaa ini bisa berjalan kalo kagak ada sogok menyogok sih wkwkw)
alhamdulillah, saya mengalami masa masa ketika Menteri pendidikan dijabat oleh Bapak Prof. Dr. Fuad Hassan, terimakasih pak Harto, telah memilihkan orang orang terbaik untuk mengurus urusan kami. untuk anak anak & cucu cucuku, tetap semangat !
Benar sekali, saya sebagai ibu yg sekarang sdh 48th, merasa bahwa zaman saya dulu kami berlomba lomba mencari SMP-SMA negri unggulan, sekarang saya justru berlomba lomba mencari SEKOLAH SWASTA ISLAM TERPADU atau PESANTREN unggulan untuk anak² saya. Betapa miris bahwa anak saya yg masih SD bisa lebih memiliki pemahaman yg lebih baik dibanding sepupunya yg di SMP negri 😓. Bahkan anak saya yg Home Schooling juga lebih baik dr pada saudaranya yg di sekolah Negri.
Terimakasih atas pencerahan nya. Karena apa yang di bicarakan, semuanya adalah merupakan FAKTA dilapangan bahwasanya kalau para siswa sekarang keadaannya sangat memprihatinkan. Saya sudah membuktikan dengan Siswi yang sedang melakukan kegiatan PKL, di tanya beberapa pertanyaan dasar & juga singkatan yang setiap harinya biasa di dengar, siswi tersebut tidak bisa menjawab. Bahkan Kepanjangan dari Singkatan SD, SMP, SMA aja siswi tersebut tidak bisa menjawab. Sungguh miris & kondisinya memprihatinkan Pendidikan kita.😢😢
kalo sistem kaya gini mah orang yg sekedar bisa baca dan itung itungan dasar bisa masuk sekolah negeri enak banget, tapi gaenaknya gitu ga ada daya saing😂
@revsistor8800, sy waktu masuk MTs termasuknya swasta jd ngga pake UN. Habis itu 2018 masuk SMK Negeri dekat rumah, tetap aja nggak pake Zonasi karena SMKN baru berdiri 2013 jadi selain milih karena deket rumah, sekolahnya jg yg butuh banyak siswa😅😅. Temen kelas sy jg ada yg dari luar kota. Tapi bukan berarti karena masuknya gampang sy ketemunya sama yg males belajar, perbandingannya sekitar 60 : 40 yg ambis dan yang nggak. Ada yg ambisnya di kelas, di organisasi bahkan di olahraga.
Kalau Mtsn Negeri tahun 2014-2017 di daerah saya masih menerapkan UN,dan banyak kegiatan ekstrakurikuler dan pramuka wajib tiap hari Jumat.Dan pake kurikulum 2013. Untung saat itu gk ada sistem zonasi karena banyak yg bisa milih sekolah mana yg diinginkan. Contohnya satu kampung tapi ada yg sekolah di SMP1,SMP2,dan MTSN2. Dan jarak mereka saling berdekatan satu sama lain,hanya beda kelurahan.
usaha saya 6 semester belajar dengan tekun agar bisa bersekolah di sma impian saya harus terkubur,kalah dengan anak berandalan yang bahkan suka tawuran hanya karena rumahnya hanya berjarak 500m dari sma tersebut,dan bahkan kini saya terpaksa sekolah di sma swasta yang semakin membebani keuangan orang tua saya.sungguh kebijakan yang luar biasa
Apresiasi untuk usaha anda belajar dengan tekun dek🙏🏻 teruslah belajar & semangat yaa. Udah coba sharing ke presiden prabowo dek? agar pak prabowo juga berusaha memilih mendikbud yg hebat seperti salah satunya Prof. Dr. Fuad Hassan yg dulu pernah menjabat dek. Semoga pendidikan anda lebih baik lagi dimasa depan & tidak lagi membebani orang tuanya ya... seperti yg udah anda alami di era mandekbud yg gagal & gajelas sekarang ini ya dek.
Kerennya pak ferry emang bisa mendeskripsikan secara gampang, padahal yang dibahas adalah topik yang ribet. Doa saya cuma satu, semoga sistem pendidikan dan kurikulumnya cepet ganti.
Mau bolos,, nakal, berantem sama guru, mau bodoh gk bisa baca ngitung,, mau pinter seperti Albert Einstein. Gk ada yang di bedakan,, semuanya naik kelas dan bisa lulus.. Hebat sekali kebijakan pendidikan di negara kita ini
bener loh. aku sering tuh pura2 nongki bareng mereka(tempat nongki pinggir laut gitu seperti pelabuhan buat ngechill kalo sore sampe malem) , SEMUA anak SMA yg gw liat meroko, anak smp beberapa ada yg ngeroko juga. yg gak meroko dari mereka cuman yang lagi pacaran berduaan ama cewenya itu doang selebihnya pasti meroko. heran sama gen Z zaman now kok makin rendah ya SDM nya, padahal gen milenial&gen90an kek gw banyak dicap sdm rendah apalagi mereka. makin miris.
Nge rokok mah bukan alasan utama mba, di jaman saya 20an tahun lalu juga banyak temen2 yg ngerokok sembunyi2. Cuma ya kaga tolol, masih pada berotak. Ngga ada tuh temen yg ngga bisa baca. Bandel iya, tapi ngga dungu. Lah ini, bayangin di jaman 2024 kok malah mundur. Padahal generasi remaja muda ini yg akan banyak di 2045😂. Jangan2 nanti bukannya indonesia emas tapi indonesia cemas. Bahaya sekali. Jangan sampai anak2 muda ini malah jadi beban kedepannha
@@cakomennemokac5915 masih mending merokok mas...bawa anggur merah atau vodka lagi satu botol bisa 12 orang..hahaha.. Yah saya memang tak secara langsung ikut2an dan tak serta merta akrab, karena yg kegiatan sesudah pulang sekolah yg saya lakukan bersama mereka yah cari duit..ada yg ngangkut pasir sungai, ada yg buruh angkut barang, ada yg kerja di konter...wah banyaklah Nah sekarang...pulang sekolah... napain anak sekarang tanpa adanya ujian nasional...lihat saja fakta di lapangan saat ini seperti apa... bahkan judi online di smartphone pun digas juga..😑 Paling ga yah ada kegiatan bermanfaat lah seperti ekstra kulikuler, les atau belajar sendiri atau ada yg buat eksperimen sendiri seperti teman2 saya lainnya yg punya kesempatan utk mengembangkan kecerdasannya... Saat ini bukan hanya sistem pendidikannya saja yg darurat, peraturan baru yg dibuatpun kacau...ntah kapan diperbaikinya...saya g paham juga...
Pak mentri lupa kalo pertama kali finlandia merubah sistem pendidikan adalah dengan menaikan gaji guru, dampaknya para pelamar pun jadi lebih banyak yg kompeten, sekolah bisa menyaring guru2 berdasarkan kualitas pendidikannya. Kedua pemerintah merenovasi sekolah smpe pake arsitek2 lokal ternama, hasilnya sekolahan mereka keren2 bgt (negri lho ya). Simpel tapi manjurrrr. Intinya upah dan fasilitas yg layak. Bayangin gaji guru kita sama ky karyawan pertamina, yg ngelamar pasti banyak lulusan2 terbaik dalam dan luar negri.
Jujur, saya mendengar dan melihat ini jadi bersyukur dan ber-istighfar karena hal yang disampaikan di atas. Saya murid SMP yang tergolong "favorit" di Yogyakarta ada ASPD di sini yang menurut saya menggantikan UN. Akan tetapi, tetap miris melihat siswa di luar Yogya belum mendapat pendidikan yang layak seperti yang diharapkan.
tunggu dulu, jadi yang di luar daerah yang menerapkan ASPD, mereka masuk pakai nilai apa? rapor sama zonasi? karena daerah ASPD kan pake nilai aspd itu, zonasi sama nilai rapot toh digabung?
Gimana bisa memahami apa yg dibaca kalau ga bisa baca, gimana bisa mengaplikasikan konsep hitung berhitung KLO ga bisa ngitung, semua harus tau dasarnya dulu, bisa membaca adalah dasar dari apa yg nntinya di fahami apa yg di baca, mampu berhitung adalah dasar dari nnti nya mengaplikasikan konsep hitung berhitung. Sistem belajar itu tidak seperti menuruni sebuah sumur sampai kita tau dasarnya , tp sistem pendidikan itu seperti mendaki gunung, harus tau dari dasarnya sampai kita tau puncaknya, konsep dan bentuk gunung itu sendiri.
Saya seorang guru honorer di sebuah sekolah negri. Menyaksikan bagaimana lamban dan tidak efektifnya sistem pendidikan di Indonesia. Saat ini guru dipusingkan oleh kesibukan dalam melengkapi dan mengerjakan administrasi, belum lagi kamu harus menerima gaji yg tidak sepadan dengan kerja keras kami, yg setiap hari harus mengajar tapi juga dituntut mengerjakan berbagai administrasi. Seakan-akan jika kami tidak menyelesaikan administrasi akan lebih beresiko daripada jika kami tidak mengajar/masuk kelas. Rendahnya pendapatan kami membuat kami mau tidak mau menjadi ambisi mengerjakan program2 yg disediakan oleh pemerintah agar kami bisa mendapatkan pendapatan yg "menjamin", tapi mereka lupa bahwa program tersebut berdampak pada kurangnya fokus kami dalam mengajar. Sistem zonasi dan tidak adanya tinggal kelas merupakan faktor terbesar rendahnya semangat belajar siswa. Siswa menganggap nilai yg bagus bukanlah acuan untuk mereka mendapatkan Sekolah Negri atau bisa naik kelas. Sikap mencontek dan plagiarisme dijadikan kebiasaan dalam mengerjakan ujian. Tolong buat video ini sampai ke Mas Menteri dan para pemangku kebijakan😭
aku memilih ga jadi guru kak, lulus tahun lalu tmnku uda pada magang. Wktu PPL sja administrasinya bnyk kerja udah kya 24 jam krna siang mengajar pulang bikin materi ajaran ,periksa PR siswa, buat soal anak". Terus siswa banyak yg sdh tidak punya sopan santun dimana sebenarnya itu harus kmbali dari ajaran d rmh mereka. ketika ada masalah di sekolah orang tua menyalahkan guru sampai berapa hari belum lagi diluar jam kerja memikirkan anak-anak bermasalah. sistemnya memaksa guru benar" tanpa tanda jasa hhh
Padahal tugas guru itu banyak, tanggung jwb sm murid di kelas, msh ngurusi laporan dll, anak sy sekolah di MI swasta ktnya guru wqli kelas sebulan 300rb, guru mapel cuma 150 rb. Benarkah? Sedih banget kl mmg bneran gajinya cuma segitu. Apa guru SD negeri juga sama ya? Yg belum pns
Masalah pendidikan di indonesia yg gw liat sekarang ini : 1. Kurikulum yang berubah² yg membingungkan guru 2. Semua murid wajib naik kelas walaupun muridnya bodoh dan nilainya jelek atau perangainya jelek cuma karena biar akreditas sekolah ga turun 3. Murid sekarang yg udah ga ada pr yg bikin sebagian murid jadi makin malas belajar karena tuntutan belajar semakin berkurang 4. Full day school tapi ga efektif 5. Ga ada UN 6. Ga ada rangking 7. Zonasi yg membagongkan 8. Gaji guru honorer yang kurang layak apalagi guru honorer yang bekerja di daerah pedalaman,malah ada guru yg ngajar 100 jam sebulan tapi gajinya cuman 200 rb 9. Sebaran sekolah yang fokus di pusat kota doang terutama sekolah smp atau sma 10. Semakin dikitnya anak muda yang mau jadi guru karena prosesnya susah 11. Jurusan di sma yang mau dihilangkan 12. Fasilitas sekolah yg ga memadai di banyak daerah apalagi pedalaman,bahkan sampai sekarang masih banyak yang lantai kelasnya masih tanah merah dengan berdindingkan papan 13. Guru makin ribet perkara tugas laporan tiap akhir semester yg makin banyak 14. Alokasi dana pendidikan yang jumlahnya lebih dari 600 T ga maksimal 15. Korupsi dimana² 16. Mentri pendidikannya yg gak paham apa masalah pendidikan di indonesia tapi bertingkah seolah² orang yg paling tau apa masalahnya dengan kasih solusi yg gak membantu Dan masih banyak lagi..
Ayo teman di viralkan, kalau viral biasanya dapet perhatian dari pemerintah, ingat dapet perhatian bukan tindak lanjut, mau marah tapi kita ya bisa apa juga, cmn bisa mendukung orang orang yg peduli dengan negara ini, lnjut trs bang feri
Tolong ini di bantu di up. Supaya sampai ke pak prabowo. Sedih bgt dengernya. Mana anak bentar lagi bakal masuk sekolah juga 😢 Pendidikan kita amburadul
Izin sharing dr POV seseorang yg memang ingin menjadi guru. Selama kuliah hingga sekarang menjadi guru, mulai dri magang PLP, ikut program KEMENDIKBUD (kampus mengajar), hingga menjadi guru dan mengajar di salah satu sekolah. Sungguh miris sekali kalo memang ngomongin sistem pendidikan dan kurikulum di negara kita ini. Mulai dari pemberdayaan tenaga pengajarnya (apalagi yg honorer), dr segi infrastruktur yg tdk memadai, adm pembelajaran yg bkn maen. Selama bergelut d dunia pendidikan pengalamn yg paling ngena dan nampol di benak saya cmn 1. Waktu itu pas ikut progaram KEMENDIKBUD (kampus mengajar) saya ditempatkan di SDN yg ad di kawasan Cilebar. Baru kali ini saya liat siswa yg sekolah pake baju bebas 😭 atap sekolah g ad alias bolong, tempat sekolah yg tdk strategis tepat berada di tengah2 sawah, akses ke sekolah yg lengah dikit auto ke akherat 😭. Pernah waktu itu ngajar pas lg hujan WKWKWKWK NGAKAK bgt belajarnya pindah ke rumah KEPSEKnya yg dmn rmhny g jauh dr sekolahannya. Kurang effort mana lg ketika anak masih mau belajar guruny masih mau ngajar. Hujan badai terik matahari di gas yg penting KBM masih berjalan dan kedua pihak sama2 saling support KBM tdk dipaksakan. Kebayang g kalian yg baca ini kalo kurikulum merdeka di terapkan di kondisi yg seperti itu? Sekolah gubuk yg tdk memadai fasilitasnya apa yg mau merdekany?
Makanya. Gebrakan yg "nyaris berhasil" Dr pak nadiem cm program kuliah merdeka. Sisanya? Amburadul se-hancur2 nya. Sampai bisa di-prediksi generasi pelajar sekarang menjadi "bom waktu" Korporat2/ aparatur negara dimasa depan
@@SemutHitam-dq9ux mantap buat uang bensin sebulan sama service motor aja gak cukup kayanya,btw itu 250 rb gaji guru gembul selama dia jadi guru honorer
suru dia kritik guru pns yg malas kerja brani nga itu guru pns itu suka duduk duduk main hp , di surunya orang ntah darimana jadi guru honor, yg di gaji dari dana bos
Sekarang siswa malah terang-teranan ogah jadi guru karna kismiin dan stress.. Cita-cita anak sekarang jadi kang parkir, gamers, youtuber 😂 Ngapain belajar cape 2 tar kalo pinter malah jadi guru 😂😂
@@afrizal46162 jelas beliau berani, cuma lagi belum aja, masa sih ga berani wkwkwk, dia aja udah nyebutin "sistem ini untuk diterapkan perlu dengan guru yang berkompetensi", itu arti nya masih banyak guru guru di indonesia itu yang buruk
Saran ane sih ya Kembalikan ujian nasional Kalau memang anak didik tidak layak naik tingkat, gausah malu sekolahnya gausah maksa untuk dia naik kelas banyak anak anak sampai SMA gabisa atau ga lancar CALISTUNG, 2045 Indonesia emas ?, omong kosong kalau pendidikan nya masih seperti ini.
*Intellectual curiosity!* Dulu sekali saya masuk SMA 15 km dari rumah. Naik sepeda pulang balik, lalu indekos (masak sendiri). Sekolah pelaut, jadi masinis dikapal 6 tahun (muntah2 terus - sebab bukan pelaut). _Fighting spirit_ IC dan iman kuncinya.
sebagai anak kelahiran tahun 90-an yg merasakan UN miris ngeliat anak sekolah zaman skrg yang miskin ilmu dan miskin adab, harga diri guru sekarang semakin tidak dihargai, bahkan orang tua nya sendiri pun tidak di hormati. ini salah satu bukti nyata kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. ! Wee need more content creator like you bg Ferry ! Salute !
Bang gua lahiran 1993 Mungkin kita ngerasain sistem pendidikan dan kurikulum yang sama Dimana masih ada Ujian Nasional, masih kenal ranking, masih saling kompetisi untuk dapat sekolah favorit masing2, bahkan sampai ke seleksi masuk kelas favorit Dan menurut gua itu bagus dimana tiap pelajar punya jiwa kompetisi satu sama lain walaupun pasti masih tetap ada praktek kecurangan Tapi itu semua yang buat generasi itu jadi tahan banting karena untuk dapat sesuatunya kita cenderung harus berjuang dan gak instan Lain hal sama generasi adek gua Dia lahiran 2006 Udah mulai peralihan kurikulum aneh2 itu muncul Gak ada ranking dan kelulusan ditentuin sekolah. Penentuan sekolah sudah pakai zonasi. Ditambah 2019 s.d 2023 covid yg buat mereka tambah kurang intens belajar atau cari referensi terkait mata pelajaran yg jadi bare minimum mereka seharusnya. Hasilnyaa ya begitu ...... Gua bukan mau bilang kalo generasi gua lebih cerdas lebih pinter lebih nalar dsb dari adek gua bng (generasi sekarang) Menurut gua mereka mereka bukan BODOH tapi ini PEMBODOHAN terstruktur Mereka ini KORBAN dari kesalahan sistem dan kurikulum pendidikan yang gak disupport fasilitas penunjangnya. Tolong lah dirubah kasian generasi penerus kita kelak Percaya deh dengan kurikulum ini pemerintah cuma terlihat sedang nina bobo kan generasi kita. Terlihat baik karena tingkat kelulusan 100% tapi secara kualitas jauh turun. Untuk siapapun nanti stakeholder terkait saya harap keresahan kita sama Terimakasih ❤️🩹
Setuju, gak ada kompetisi gak ada keinginna berusaha, anak belum siap secara pikiran di tingkat selanjutnya malah di naikin kelas (anak tolol bisa naik kelas). Tolol akibat tidak ada keinginnan untuk belajar, "buat apa belajar toh bisa naik kelas bisa lulus",mungkin itu yang ada di otak anak sekarang.
Sayangnya generasi sebelumnya terkhusus orang2 cerdas di indonesia pun gak bisa mencegah sistem jelek pendidikan ampe kejadian di jaman ini. Mau gimana lagi, diperbaikin pun udah terlambat. Cuma 'revolusi' dari pemerintahan baru yg jadi harapannya, sehat selalu untuk Pak Prabowo dan Tim Kabinetnya.
bro, eksplorasi bisa dilakukan secara mandiri, kalau orang gabisa inisiatif buat belajar dan harus terus dipecut sama tuntutan dia gaakan bisa belajar seumur hidup!
Bersyukur masih bisa mengalami pendidikan dasar di era 70-80 an yg bener2 mempelajari banyak pengetahuan umum yg terasa sampai saat ini...dan memprihatinkan utk pendidikan saat ini 😢
Tengkyu bgt bg, gw yg udh 6 taon jadi guru liat siswa gw tu malah ha hoh sndiri, dlm artian tugas guru tu estafet ya dr SD - SMA tu kudu bgt di maintain. Di kelas gw jg ada yg BUTA HURUF dan emng kuras tenaga bgt bwt diferensiasi tiap anak. Smngt sobat guru Nusantara 🔥
Gw suka nih pembahasan ini, bang. Karena akan sangat berpengaruh buat perkembangan negara kita di masa depan. SEMOGA .. SEMOGA BANG FERY BISA MENDUDUKI SALAH SATU KURSI MENTERI DI ERA PRESIDEN PAK PRABOWO SESUAI DENGAN KEAHLIAN DAN KEMAMPUAN YANG JENENGAN KUASAI, BANG. 🔥🔥
Keluhan guru2 mulai tampak di universitas. Beberapa postingan di kantor2 yang mempekerjakan orang2 usia lulus SMA dalam waktu dekat ini juga mulai tampak keluhannya. Jadi... yaaa mulai memprihatinkan
Alhamdulillah,terima kasih banyak bang Ferry,kepedulian anda membuka mata hati saya sebagai orang tua,setidaknya saya harus terus pacu belajar,untuk meng aplikasikan,memantau kepada anak saya.....,membuat pendidikan yang pertama satu hal yang harus saya bangun.......saya hawatir bila masa depan nanti generasi emas tp Rasa Perunggu😞
Sebagai orang yang terjun di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, saya sepakat dengan seluruh analisis dan breakdown yang disampaikan mas Ferry ini. Masalah pendidikan di negeri kita sangatlah kompleks, dan benar bahwa tidak bisa kita serta merta mengadopsi sistem pendidikan negara lain untuk diaplikasikan di Indonesia dengan harapan outcome yang sama karena banyak sekali variabel dari negara yang kita adopsi tidak tersedia di negara kita. Jika masalah di sekolah dasar dan menengah salah satunya terkait tidak bisa membaca atau menghitung, di perguruan tinggi masih banyak mahasiswa yang kurang dalam ketajaman analitiknya. Masih banyak mahasiswa yang belum bisa berfikir logis dan runtut, sehingga dalam mengurai masalah seringkali tidak akurat dan terkesan superfisial. Akhirnya, SMP harus mengurai lagi bahasan SD, SMA mengurai lagi bahasan SMP, dan hampir selalu bahasan yang sudah beres di SMA harus diulang lagi ketika masuk perguruan tinggi. Saya berharap ada banyak lagi anak muda seperti mas Ferry ini, sekaligus kita wajib mempunyai kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya dibebankan pada sekolah dan guru saja, melainkan banyak hal yang seharusnya sudah diajarkan di rumah sehingga proses penyampaian belajar dalam sekolah menjadi lebih efisien. Semua pihak turut bertanggungjawab, mulai dari pendidik, peserta didik, pemangku kebijakan, bahkan orang tua. Saling melemparkan tanggungjawab tidak akan menyelesaikan masalah, meskipun kita paham bahwa tidak semua orang mampu bertanggungjawab atas masing-masing peran dan kewajiban atas pendidikan tersebut. Terimakasih bung, terus sampaikan pemikiranmu. Hormat dan selalu ditunggu analisis-analisis berikutnya.
indonesia butuh orang2 seperti anda bung,yg peduli akan pendidikan, memberi kritik skaligus alternatif solusi.ayo para stake holder,perbaiki legacy sistem pendidikan nasional.tambah tahun generasi kita semakin menurun secara kompetensi.kl gini trs,emang bisa ada trwujud indonesia emas?😀
Thank you bang Ferry sudah menyuarakan kegelisahan banyak orang tentang sistem pendidikan kita. Zonasi ini sungguh menjerumuskan kita untuk berbuat curang (masuk ke sekolah negeri di luar zona dengan "bayar") karena sekolah tidak tersebarrata dan negara tidak memberikan fasilitas pendidikan dengan adil karena bukannya dibuat pemerataan sekolah negeri di segala penjuru tapi malah semakin menjamur selolah swasta dimana-dimana. Artinya sekolah menjadi barang mahal untuk sebagian orang.
Menurut saya, sistem zonasi adalah sistem yang membatasi siswa dalam berkembang dari segi pola pikir dan banyak hal lainnya. Saya mengambil contoh nyata dari kisah sewaktu saya sekolah dulu. Saya berdomisili di bekasi, tapi SMP dan SMA di Jakarta utara. Tiap hari harus bangun subuh, berangkat naik bis. Kadang pulang juga sampe rumah jam 8 Malem karna macet dan bimbel. Rutinitas yang luar biasa, sama kaya orang kantoran. Berangkat gelap pulang gelap. Tapi.. Banyak nilai dan pengalaman luar biasa didalam proses itu. Kedisiplinan, mental survival, nilai kejujuran, manajemen waktu, manajemen keuangan dan hal positif lainnya. Ya, itu adalah nilai nilai dan pelajaran yang gakkan pernah didapat di bangku sekolah. Zonasi ini malah menutup ruang pembelajaran siswa "LAINNYA" yang gakkan pernah diajarkan dan didapatkan di sekolah. Awalnya berat, sangat berat ketika dijalani. Tapi akhirnya saya pun sadar bahwa sangat berpengaruh untuk membentuk karakter seorang siswa.
Yg optimal harusnya sekolah dekat dengan rumah agar siswa waktunya tidak habis di perjalanan semata. Tapi sayang, sistem Zonasi ini exe nya ga sebagus teori di kertas yg mau setiap daerah diisi tenaga didik berkualitas.
Ini sekedar opini pribadi 1. System ranking seharusnya di adakan terlebih dahulu sebelum mengikuti system pendidikan Finlandia (jadi bisa memisahkan antara orang muda yang niat belajar dan yg tidak, setidaknya Jika mereka lolos sekolah dan memiliki nilai nilai bagus di sesuai dengan mata pelajaran yang dia kuasai, dia bisa memilih universitas yang dia tekuni!) 2. Menaikkan gaji guru tetapi harus juga di awasi juga karena mungkin saja ada yg manfaatkan keadaan tersebut dan mengambil keuntungan dari situ ! (Menaikkan gaji guru dan meminta guru mengajar murid nya yg guru tersebut kuasain mata pelajaran tersebut, maksudnya guru SD menguasai mata pelajaran yang sederhana dan ketika salah satu ada murid yg menguasai satu mata pelajaran dengan nilai terbaik, maka guru tersebut bisa rekomendasi sekolah/guru yang memiliki nilai mata pelajaran terbaik/universitas sesuai dengan bakat murid tersebut sehingga bisa mengasah kemampuan belajar nya 3. Pengawasan yang ketat setiap sekolah, baik dikota kota gede dan pelosok sehingga tidak ada kecurangan dalam system pendidikan tersebut (korupsi lah / guru males belajar murid murid lah / atau system sekolah yang tidak sesuai dengan system yg diterapkan oleh negara) 4.hilangkan belajar agama tetapi bukan berarti dihilangkan sepenuhnya (sediakan buku buku pelajaran agama dan guru yang menguasai agama, contoh nya, sekolah yang memiliki ruang khusus untuk agama setiap jam pulang sekolah, dan tergantung pihak murid dan orang tua nya yg memutuskan apakah mereka mau belajar atau tidak karena dalam Islam tidak ada paksaan untuk mengikuti Islam) 5. Hukum berat bagi yang melanggarnya (Tetapi harus manusiawi, baik bukan berarti lemah, kejam bukan berarti jahat, hanya ingin disiplin untuk para guru dan murid sehingga mereka taat akan peraturan sekolah) Dan saya akan kembali lagi ketika ide ide saya masuk lagi Jika ada yg salah atau mau nambah tinggal komentar dan kita saling tukar pikiran sehingga tercipta lah komunikasi yang baik!
Menit ke 10:28 : Nadiem mengatakan " .... yaitu literasi, kemampuan.. bukan membaca... tapi memahami konsep bacaanya...." sebentaaar.... kalau nggak bisa baca.. gimana bisa paham konsep sebuah bacaan ? apa tulisan2 di buku cuma di pantengin saja tanpa di baca, kita bisa paham ?
Yaps betul, apalagi numerasi dll, untuk menerapkan, mengaplikasikan suatu hitung2an terhadap konsep yang abstrak itupun klo anak gak paham hitung2 gimana bisa menerapkan? 😊
Bukan cuma tentang pendidikan. Tapi hampir segala aspek kenegaraan. Negara ini udh tinggal nunggu roboh bareng bareng atau dijajah bareng bareng kalo pemerintahnya masih memikirkan kaumnya sendiri trrus. Emg anjing
Almarhum bapak saya guru, ibu saya juga guru. Dari dulu waktu mulai zonasi sampai sekarang selalu bilang : zonasi bukan pemerataan pendidikan. Zonasi pemerataan kebodohan. Guru guru juga tidak termotovasi buat ngajar dengan kurikulum sekarang Udah gitu ditambah wajib naik kelas + murid tidak ada ujian. Yang bertanggung jawab di program program ini hisabnya berat nanti di akhirat. Wallahualam
setiap bulan guru harus melaporkan kemajuan tentang anak didiknya secara periodik sehingga dapat diketahui kemajuannya, kemudian setiap saat disampel dari sebuah tim tentang kemajuan anak tersebut, jangan menunggu semesteran atau kenaikan kelas.
Mau nge-share pengalaman aja, memang perlu diakui masih banyak yang perlu dibenahi dalam pendidikan kita, tapi menurut saya program kampus merdeka sangat patut diacungi jempol loh. Kebetulan saya alumni pertukaran mahasiswa merdeka di Sulawesi Tenggara. Jadi di program ini saya berkesempatan untuk belajar di kampus selama satu semester dan bisa lintas jurusan. Dan dikasih BBH itu semacam duit lah. Kemarin di angakatan saya , kebetulan saya angkatan ke 3 dpt 1.5 per bulan. Di sana saya dpt temen temen dari Aceh sampai Sorong. Sungguh terimakasih kepada pak menteri yang sudah menginisiasi program ini. Untuk pertama kalinya saya keluar dari Pulau Jawa, naik pesawat gratis PP, jadi tau gimana kehidupan di luar Jawa khususnya Sulawesi tenggara. Sungguh pengalaman yang luar biasa.. mungkin kalau ngga ikut program ini , saya ngga akan tau rasanya hidup di luar Jawa.
Program ini emang bagus, kebetulan gw jg ikut. Tapi yg netizen dan Masyarakat khawatir lebih ke kurikulum merdeka anak sekolahan yg ngalor ngidul, Gajelas mau kemana arahannya
hallo warga sipil sekalian, selamat menonton
Selamat makan
okr
Bagaimana pendapat Bang Ferry tentang kegiatan 14 Oktober?
Akan ada the people power
Nyimak bang fery
Sejak UN ditiadakan, rasanya jiwa kompetisi dan belajar anak2 sekolah turun banget. Karena merasa pasti naik kelas dan lulus
Saya guru dan saya setuju
Udah ga ada filter nya
Bukannya itu dulu harapan banyak org utk UN dihapus , kok ?
UN dan ranking, dulu masuk 10 besar ranking aja dah syukur
Gk juga, gw malah sekarang jadi bisa fokus belajar komputer buat bekal kuliah
Pada akhirnya lelucon beberapa tahun lalu yang mengatakan "nadiem merancang anak2 kita agar besarnya pada jadi ojol" Sekarang tampak sedikit masuk akal
Sedikit? Keknya lebih dari itu
Naaaa diem,ter diam
ngeri tp bener sih
🗿Makan tuh gojek
Lebih tepatnya sistem pendidikan DAN kesehatan sedang dirancang buruk agar SDM buruk sehingga bisa dikontrol dengan mudah baik pemerintah atau penjajah. Selama pemerintah kita korup, jangan harap kedua sistem ini akan baik
saya seorang praktisi di industri kreatif, diajak ngajar di smk jurusan multimedia dari 2019 sampe 2024, bahkan sampe menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum, tapi saya mundur dari mengajar juli kemarin, karena saya merasa bagaikan mendorong sebuah batu besar sendirian.
1. Sistem pendidikan yang terfokus ke kekurangan anak, bukan fokus ke kelebihan anak dan memfasilitasi kelebihan tersebut, contoh ada anak yang gambarnya jelek banget, tapi dia jago di bidang fotografi dan videografi, sistem mengharuskan si anak bisa menggambar, karena masih ada sistem KKM, Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh sekolah
2. Mental tempe, dunia kerja itu keras, tekanan deadline, disiplin, kualitas kerja, dan lainnya itu harus ditegaskan ke anak smk, tapi hal ini banyak ditentang oleh guru lain karena takut dengan undang-undang perlindungan anak, yang menjadikan anak bermental tempe dan ngelunjak karena gurunya takut untuk bersikap tegas.
3. Pasti naik kelas, selama menjabat saya tidak meluluskan sekitar 9 siswa, dan tidak menaikan 12 siswa, hal ini jadi kontroversi karena anak yg tidak lulus dan tidak naik dipastikan malu untuk tetap di sekolah yang sama sehingga memutuskan untuk pindah, perlu di ingat bahwa jika siswa tidak lulus atau naik kelas, maka sistem di dapodik juga harus disesuaikan, ini yang menjadi ketakutan banyak sekolah karena presentasi kenaikan dan kelulusan menjadi tidak 100%, dan itu bisa berpengaruh ke akreditasi atau penilaian sekolah.
4. Sekolah swasa itu bisnis keluarga, bukan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, selayaknya sebuah bisnis ya pastinya dituntut untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, guru dituntut harus S1 dan S2 tapi gaji jauh dibawah UMK, sering bantuan atau dana bos yang menjadi hak guru tidak sampai ke guru, sehingga bagaimana guru bisa mengajar dengan baik jika di pikirannya harus terbagi dengan bagaimana cara mencari tambahan pemasukan untuk bisa bertahan 1 bulan ke depan.
5. Orang tua yang terlalu ikut campur, saya pernah melakukan analisis ternyata orang tua yang lahir di tahun 70, 80, 90 an itu cenderung memiliki dendam yang terpendam terhadap gurunya, mereka akan ingat kepada guru yang pernah memukul mereka dengan sapu atau menampar mereka dulu saat sekolah di jaman orde baru, saat itu orang tua mereka tidak membela, bahkan memberikan hukuman tambahan di rumah, inilah yang menjadi dendam terpendam, dimana saat anak mereka sekarang mendapatkan masalah di sekolah, orang tua ini ikut campur, tidak menerima dan tidak mau jika anak mereka mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka di masa lalu.
intinya adalah, banyak variabel yang rumit di sistem pendidikan di indonesia akan terus membuatnya jalan di tempat, sekolah yang hanya terfokus mencari keuntungan, guru yang harus mengajar disana sini, buka les dan jualan online untuk bertahan hidup, dan pemerintah yang membuat sistem tanpa terjun ke lapangan secara langsung.
Welcome rakyat 58%
@@YusufMaulanaAripin menanggapi no 1 dan 4...kira² apa solusi terbaik dr anda??krna saya jg berpikir demikian...saya gk mw memaksa anak belajar dikekurangannya...tp tuntutan skolah..apalagi skarang nilai minim remidi 80...kan t41....
Yg soal ortu...itu lebih ke arogansi aja sih...saya kelahiran 90...saya bilang ke guru nya...klo anak saya tolong dididik...klo perlu dipukul ya dipukul...tp kata gurunya...udah gk boleh kayak gt pak...lhaa trus bwt apa anak ku skolah?cm suruh kejar nilai aja?
Kalau sudah begini, jika orang tuanya mampu dan cukup intelek, mending anak home schooling aja, anak yang unik bisa diarahkan sesuai bakat dan minatnya, orang tua akhirnya bisa yakin bahwa ya anaknya sudah sampai di level kognitif itu. Karena bagaimana pun, anak itu adalah tanggung jawab dan komitmen orang tua. Jika didelegasikan ke orang lain dan ternyata sistemnya bermasalah, maka anak pun jadi "rusak", dan akan gagal dan mudah rapuh di kemudian hari, saat dia harus mandiri dan orang tua sudah tidak ada lagi hadir mendampinginya.
Alhamdulillah saya telah menjadi pengajar di salah satu politeknik swasta, kemudian saya dipercaya untuk mengampu matakuliah matematika dasar, ketika pertama kali mengajar di kelas saya cukup senang dengan antusiasme baik dari mahasiswa yang ceria. Namun singkat cerita momen dimana saya kaget ketika memberikan kuis ringan mengenai operasi hitung campuran kepada mereka, ternyata kebanyakan dari mereka menjawab dengan salah dan sebagiannya bahkan masih coba menyelesaikan hitungan sperkaliannya. Ternyata setelah pelajaran selesai saya baru mengetahui bahwa lebih dari setengah kelas mahasiswa tersebut banyak yang belum menghapal kali kali 1-10.
Kadang bingun, bagaimana bisa mereka bisa naik kelas dengan backround keilmuan sepeeti ini? Dan juga bagaimna mereka mau melanjutkan pelajaran kalau kali turun dan bagi menurunpun tidak tau? Miris, kasihan dan sedih melihat mereka.
@@wahyupujisahputra9948 saya yg lagi belajar di salah satu bimbel online untuk keperluan tes aja juga kadang heran masih ada yg belum paham dan bisa matematika dasar
Ini real cerita temen ponakan aku, waktu SD dan SMP dia pintar dan pernah juara olimpiade tingkat provinsi, tp ketika mau masuk SMA dia ngga masuk zonasi makanya ngga diterima di SMA manapun,, dan sedihnya sekarang dia depresi ngurung diri di rumah dan putus sekolah... ini alasan aku sangat benci sama bpk Nadiem, bagaimana kebijakan2 pendidikan yang ada merusak proses hidup seseorang, tp apa beliau peduli? BIG NO.. guru honorer dan anak2 sekolah seperti tikus percobaan😢
harap maklum nadiem dgn bangga sistem luar negri pdhal si nadiem IDIOT
yg milih jd menteri pendidikan dulu siapa...hrsnya milih mentri hrs yg capable bukan hy krn nurut sama presiden dan pro dg partainya aja
Masak nggak di trima di SMA manapun?😊
@@Rommydk.1979 Dia mungkin ada keinginan untuk masuk sekolah Favoritnya dikarenakan mungkin dia awal diterapkan sistem Zonasi wilayah dia menjadi tdk mendapatkan sekolah yg diinginkan hingga mentalnya menjadi down dan depresi.
Banyak sekolah swasta yang hebat2. Kenapa tidak masuk sekolah swasta. Sekolah swasta dari segi tenaga pendidik ada yang lulus an S2-S3. Coba bayangkan jika keinginan anak anda menjadi pemrograman, membuat game, membuat robot diajarin guru S2/S3 jadilah dia anak SMA ilmuwan.
MAU CURHAT, kebetulan saya kelas 11 SMA di desa, di sekolah saya itu jarang belajar jamkosnya bikin saya muak karna hampir tiap hari tdk belajar...guru2 hanya sibuk sama PPPK dan mereka ngelantarin siswa2 alias tdk mengajar...jujur sy muak muak bahkan belajar matematika dari bulan juli-oktober ini baru 1x pertemuaan. Sedihh bgtt muakk bgt alhasil harus belajar sendiri dari yutub😭, yang lebih bikin sy muak, guru2 itu yang sibuk sama PPPK mereka nyuruh2 siswa buat ikut kek bantuin tugas si guru itu( UKIN GURU SY TDK PAHAM UKIN UKIN INI BUAT APA) Yang jelas kami di suruh pura2 jawab soal yang mana tuh soal udah dikasi tau jawabannya di grup wa, berasa kayak lagi main game yang pake cheat🥲 disuruh main ikut aturan main awowkwkwk, karna sy males sy memilih tdk ikutan bantuin guru2 itu. MUAK SOALNYA dan tau apa respon si guru itu tiap kali ketemu saya? Tatapannya sinis sekali wkwkwk
Edit : maksud saya di atas PPG bukan PPPK, terimakasih abang2 kakak2 mba2 netizen yang sudah mengingatkan di kolom komen 🙏🏼
ya itu agak memilukan sih, apa lagi itu mata pelajaran yang penting. tetapi kenapa guru sibuk PPPK, se tau saya PPPK itu ada tunjangan tiap bulan nya. yang dimana kalau gaji dari sekolah saja itu hanya sedikit, maka dari itu guru sibuk dengan PPPK. tapi seharusnya guru bisa mengatur waktu untuk P3K sama mengajar, apa lagi guru tugas utama nya untuk mengajar.
Hah serius ini?? Lah gimana ini pemerintah dinas pendidikan daerahnya 😢 kok nggak diawasin..
asli kurikulum merdeka ini memang sampah banget, guru jarang masuk terus sekalinya masuk disuruh buat ppt dan di presentasikan tanpa diberi tau tentang materinya, sekolah isinya cuma tugas kelompok sama presentasi, pas tugas kelompok juga ga semua nya kerja ada anak yang numpang nama doang
@@mingo3112 aslie
Ttp belajar aja walaupun sendiri. I know keadaan ga bisa dimaklumi karena banyak bgt kekurangannya, tapi jgn sampe itu jd penghalang untuk cari ilmu yak. Bisa disampaikan juga ke temen2 yang mungkin sevisi. Nongkrong boleh, belajar juga tetap harus, apalagi hal-hal dasar dan seserhana itu wajib
Dan munculah kalimat mengerikan dari para siswa SD, "ngapain belajar, ngapain ngerjain PR, ngapain capek-capek mikir? Toh nanti juga naik kelas, nanti juga lulus." Ini adalah ucapan anak2 siswa saya dalam beberapa angkatan. Gimana coba?
Toh kalau mau nyari ilmu ada AI
Jujur dulu saya waktu sekolah emang males belajar dan cuma Kejar ijasah, tapi ya dipaksakan belajar karena pengan naik kelas/lulus.
Tapi kalo ga effort juga dijamin naik kelas/lulus, anak-anak yang gapunya niat belajar dari diri sendiri akan berpikir ngapain belajar?
Ckckck miris banget 😢😢😢
Pelan-pelan dijelaskan dong ke anak kalau belajar itu untuk menambah pengetahuan, pemahaman, cara menggunakan pengetahuan, mengalami pengetahuan, mengkoreksi kekurangan, dan terus tumbuh dalam keterlibatan di dalam kelompok, budaya, dan lingkungan. Namanya juga anak yang suka belajar pasti mempertanyakan tujuan pembelajaran.
Dari dulu juga udah kaya gitu
Indonesia ini ya mau pakai kurikulum atau sistem pendidikan dari negara mana saja, mau Finlandia, Inggris, Amerika, Jepang atau negara maju lainnya, selama sarana pendidikannya masih kaya sekarang ya percuma.
Saya tidak ngomongin sekolah negeri di kota besar dan kota-kota lain (level kabupaten/kota madya). Tapi saya ngomongin soal sekolah negeri di desa-desa. Terutama di daerah luar Jawa, lebih-lebih di daerah terpencil.
Sudah biasakan melihat sekolah bangunan mau ambruk, ada yang ala kadarnya berdiri, kursi meja lapuk, lantai tanah. Coba lihat kenyataan. Pasti sedih lagi liat murid-muridnya, ke sekolah pakai seragam seadanya. Guru juga ala kadarnya, berjuang demi pendidikan dengan fasilitas seadanya.
Yang model begitu mau dikasih sistem apa aja juga percuma saudara-saudara. Realistis saja.
Saat ini yang diperlukan dulu itu pemerataan sarana pendidikan. Ini tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Lebih tepatnya pemerintah daerah sebagai ujung tombak utama. Pemerintah pusat paling cuma mengucurkan dana (itu juga sebagian pasti ada korupsi), pemerintah daerah lebih suka nyimpan duit dana di bank saja daripada untuk membangun.
pake kurikulum china /korea bwang biar pada kena mental.
Recruitment nya g ikt filandia . Tp kurikulum ikt filandia. Kan aneh. Umpama loe punya perusahaan sistem mau bikin kyk Google. Tp pemilihan karyawan g sama kyk Google.
Betul.
Nadiem emang mikir cuma kota besar saja. Di desa gmn
Jangan lupa juga masalah mental pendidikan di negara kita, di negara negara maju mental pendidikannya sudah sangat bagus. Bisa belajar darimana saja dan kapan saja, kepedulian dan pembimbingan orang tua dan guru dalam pendidikan di luar sekolah, lebih diutamakan paham daripada hafalan.
Sedangkan disini masih banyak sekali orang - orang yang memandang rendah pendidikan, menginginkan jam sekolah dikurangi dengan alasan negara lain juga melakukannya padahal di negara lain pulang sekolah masih bisa belajar di rumah dengan orang tua atau internet sedangkan disini pulang sekolah ya main atau kegiatan lain di luar pendidikan.
Negara Israel dalam setiap 7 orang penduduk...5 orang berpendidikan S3...tapi lihatlah manusia manusia genius IQnya membantai rakyat Palestina khususnya Gaza tanpa ampun dalam setahun terakhir dan dalam kurun waktu 75 tahun...apalah artinya pendidikan akademi tinggi berkualitas Internasional tapi hati nurani mati...😢😢😢😢😢
Makasih videonya bang. Akhirnya ada yang buat konten kek gini. Dunia pendidikan sekarang hancur banget semnjak siswa ga naik kelas hanya guru disalahin, ga ada UN, ga ada ranking dan zonasi
Anak-anak ga ada motivasi bljr.
Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Al-Bukhari
Ternyata hadist ini benar sebenar benarnya, Sy merasakan sendiri keadaannya
@@RizalManfaluti lu knp bang?
@@hazz-z4v coba aja lu nambal ban ke Rumah sakit, bisa gak😂
Daripada merekrut guru banyak2 yg gak jelas seleksinya dan dipaksakan, mending rekrut TU banyak2 yg gak paham pelajaran, tapi bisa maen komputer, biar video penjelasan pelajaran diserahkan pada ruang guru. 😂😂
Dijamin anggaran kecil pasti sukses.
Atau gak, serahkan kepada muhammadiah. Mereka swasta tuh, tapi malah sukses. Bubarkan aja kementerian Pendidikan, pake pola swakelola Pendidikan
Dan sekarang hampir disemua kementrian diisi dengan orang orang yg bukan ahlinya. Contohnya kominfo dan menag
Ini masih dalam ranah "sekolah", belum lagi ranah "pendidikan tinggi". Kami para dosen sudah sangat sangat sangat sering berbicara didepan para stakeholder, terutama para pejabat2 kemendikbudristek. Kami dipush untuk "meluluskan" mahasiswa baik itu mata kuliah dan skripsi, jika tidak maka akreditasi prodi lah yang jadi korbannya, dosenlah yang jadi korbannya.
Sementara sang "mahasiswa" yang kami ajar, bukan hanya kualitasnya yang dibawah standar, ettitude mereka juga jauh dibawah para mahasiswa 10 tahun yang lalu. Ketika saya kuliah S1 tahun 2009, tidak ada mahasiswa yang berani main hp didalam kelas. Kalau sekarang? Mereka terang-terangan ngeluarin hp didepan dosen. Bahkan ada mahasiswa saya yang duduk di bangku paling depan terus tidur. Kenapa tidak saya tegur? Karena saya tidak ingin beberapa hari kemudian saya viral dengan julukan "Dosen killer" di berbagai media sosial. Dosen saat ini sangat terkekang dengan peraturan kementrian pendidikan yg menekan dosen untuk memudahkanmahasiswanya dengan cara memberi nilai yg bagus.
Baca komentar kakak saya jadi ingat saat masih jadi mahasiswa. saya mahasiswa 10 tahun lalu. Lulusan teknik yang beberapa kali sempat ketiduran saat dosen sedang menerangkan materi. Bukan karena malas atau nggak menghormati dosen, tapi karena ngelembur sibuk dengan project2 yang diberikan melebihi kapasitas kemampuan dengan waktu yang terbatas. Kadang kami hanya tidur 1-2 jam saja. Itu pun hasilnya harus setara kampus top 3. Meskipun kampus kami negeri provinsi tapi tetap berat bagi kami apalagi kalau dosen hanya mau terima jadi. Keresahan kami kadang ada beberapa dosen yang suka nyuruh tapi enggan membimbing + minim toleransi. Jadi, mohon kak lihat juga dari sudut pandang mahasiswa. Nggak semua mahasiswa suka tidur itu karena malas, kadang juga karena tugas2 yang diberikan dosen itu sendiri, bahkan beberapa ada yang kerja part time.
Semoga kemendikbudristek mendengar keresahan para dosen dan dipermudah segala urusannya.
Nah ini sama dengan yang sedang saya hadapi sebagai seorang dosen😢
@@youngyounglea8551 Saya paham karena saya juga lulusan teknik. Tugas dan praktikum kami dulu juga dipush terus gak jauh beda dengan upn itb. Tapi 10 tahun yg lalu, mahasiswa masih memiliki etitut yg bagus dikelas. Jika mau tidur bisa duduk dibelakang, saya dulu juga gini wkwk. Dosen juga paham. Ini terang-terangan duduk didepan, main hp kemudian tidur.
Dan baru-baru ini, dosen paling senior di prodi saya menunggu 1 jam di kelas tapi tidak ada mahasiswa yg datang atau menghubungi beliau (maba 2024).
seperti inikah mahasiswa pasca covid?
Nahh ini yang anak saya alami kenapa dia sampai tertidur di kelas.karna dia hanya cuma punya waktu tidur 2-3 jam sehari.disebabkan karna kurikulum merdeka setiap mata kuliah harus ada tugas laprak,tugasnya pun banyak banget sehingga mahasiswa sudah ga punya waktu lagi untuk beristirahat.bahkan hari sabtu minggu pun mereka masih buat laporan tugas .
Jadi sebenernya masalah ini 2 arah, dari sisi dosen iya kesel,tapi dari siswa juga mereka seperti tenggelam dalam tugas tugas mereka. Ga enjoy amat yak jdnya 😢😢
Sungguh memprihatinkan, dan disarankan untuk masukin anak ke Sekolah swasta yang bagus dan berfasilitas lengkap. Indonesia benar benar butuh perubahan.
Terapkan Bloom's Taxonomy, mulai dari yang terendah dulu: remember - understand - apply - analyze - evaluate - create.
Jangan ujug2 langsung ke level tinggi kalau ingat (remember) aja enggak.
SANGAT SETUJUU. Smp banyak yg belum bisa literasi dasar(membaca) dan numerasi dasar (perkalian 1 sampai 9). Gimana mau paham, mengaplikasikan/ menganalisis materi pelajaran.😢
@@Gnaqhse7 .. padahal literasi dasar dan numerasi dasar ada di kelas 2 sd dan merupakan syarat naik kelas 3 sd .
Dan aturan di bloom taxonomy itu sangat jelas "siswa harus benar-benar menguasai level pengetahuan untuk bisa naik level"
Kurikulumnya udah dibikin sesuai sama bloom taxonomy, malah bikin aturan gk boleh tinggal kelas, gimana gk ancur😂
Dan lebih anehnya lagi, nadiem gk buang aturan ini.
@@Nnkhrsf8860 Setuju, hal tersebut merupakan satu kesalahan terbesar dalam belajar.
Sumber: TH-cam Channel Kok Bisa?
th-cam.com/video/1T2gaG5vPk8/w-d-xo.htmlfeature=shared
INI NIH, anggap aja kayak main game sebagai pemula, loh langsung main level tinggi ya otomatis kalah, harus belajar dari sangat awal untuk mengerti konsep dan cara bermain, lalu secara perlahan (atau cepat kalau bisa) berkembang sampai kamu bisa menang di level tinggi itu. Sama seperti pendidikan, harus belajar dari dasarnya dulu dan dimengerti untuk maju.
Ya. . . masalahnya guru2 tidak menimbangkan kemampuan murid2 dalam mengerti konsepnya, asalkan mereka nggak remedial ulangan udah berarti mereka udah mengerti, padahal mereka hanya menghafalkan saja materinya tanpa ada analisi sekalipun. Pas SMP teman2ku udah sebanding, tapi pas SMA teman2 udah ketinggalan banget, kayak di matematika substitusi nilai sebuah variabel dalam aljabar aja mereka bingung, banyak yang nanya perkalian yang sangat mudah (4x6, 2x8, etc) ke aku karena cuman aku doang yang bisa (kita udah masuk logaritma smh smh)
Pendidikan di era sekarang:
1. Sengaja membuat pelajar menjadi lebih bodoh supaya mudah diatur (untuk menjadi budak korporat atau buruh gaji rendah yg tidak akan berani memberontak) kedepannya.
Ingat ini: "orang bodoh akan mudah diatur dan diadu domba, sementara orang pintar akan sulit diatur dan cenderung memberontak".
2. Dijadikan ladang bisnis, ladang korupsi, dan ladang pencucian uang mau itu KJP atau dana BOS dkk.
3. Asal main copy-paste kurikulum dari berbagai negara karena fomo tanpa mau berbenah diri terlebih dahulu, tidak mau mengerti perbedaan SDM dan tidak menguji terlebih dahulu sistemnya.
4. Dipimpin oleh menteri yg gak tau apa-apa soal pendidikan akibat politik balas budi.
5. (Silahkan tambah sendiri)
Edit di nomer 1 dikarenakan masih *ada* yg TIDAK PAHAM konteksnya 🤦♀️
nomer 1 dan 2 absolut kebenarannya.
Nomor 4 akurat, Mentri di segala bidang tidak sesuai dengan posisinya pada saat ini, terutama setelah intervensi Jokowi
Mau bayar kuliah disuruh pinjol. Sedangkan penyerapan tenaga kerjanya aja rendah. Amrik banget ga tuh. Keren emang pemerintah kita ngadopsi sistem amrik 👍🏻
Mas mentrinya balik aja jadi boss gojek jangan jadi mentri
negara kita pemerintahnya ampas bang sampah banget, orang pemerintahannya memperkaya sementara kita di injek terus
Dulu mainnya abc 5 dasar, congklak, bola bekel, monopoli, sampai kartu remi/uno, dll yg mostly permainan2 ini tetep ngelatih otak untuk hapalan, berhitung, fokus secara simple. Nontonnya juga are you smarter than the 5th grader, laptop si unyil, otan sama yg lumba2 celana oren itu, magic school bus, raindrop yg tetes air vs kuman, jimmy neutron.... Agak berasa kayak lagi kuis kecil2an tapi menghibur gitu
Daripada merekrut guru banyak2 yg gak jelas seleksinya dan dipaksakan, mending rekrut TU banyak2 yg gak paham pelajaran, tapi bisa maen komputer, biar video penjelasan pelajaran diserahkan pada ruang guru. 😂😂
Dijamin anggaran kecil pasti sukses.
Atau gak, serahkan kepada muhammadiah. Mereka swasta tuh, tapi malah sukses. Bubarkan aja kementerian Pendidikan, pake pola swakelola Pendidikan
Temen gw jago ngajar lulusan S2 katanya kalau gaji guru bagus dia mau jadi guru. Kenapa engga kalau S2 ngajar kalau gajinya bagus jadii seleksi guru sebaik mungkin. 😊
mk ny ikutin pola pikir ortu luar yg ngebatesin gadget, anak indo mah masih piyik aja udh di cekokin gituan hahahahahaha ,ya anak ny bodoh atas didikan ortu nya tp malah nyalahin org lain. sekolah anak pertama adalah rumah dan guru pertama anak adalah orang tua.
Tahu gak sih trans7
ya ampun magic school bus, dulu paling suka banget pulang sekolah ntn itu selalu ditunggu2 menarik juga untuk belajar
Aduhh gara2 konten tiktok tanya awab dengan anak sma, saya jadi mau curhat. Saya kebetulan baru masuk jenjang SMA, dan masuk di negeri. Dalam masa pendidikan formal saya, baru kali ini masuk negeri, dan sebelum2nya masuk swasta. Saya mengambil jalur prestasi non-akademik, dan rumah saya jauh (beda kota). First impression.. kalau dibilang kaget, yaa... pasti kaget sih. Izin saya ceritakan.
Saat pertama kali masuk (setelah MPLS), saya benar-benar semangat sekali, karena pelajaran MTK di jam pertama (hehe). Mulailah guru saya mengajar, pada hari itu beliau hanya mereview materi2 di SMP, sebab kata beliau materi SMA membutuhkan pemahaman dari materi SMP. Untuk bab pertama mengenai eksponen dan logaritma, pasti orang-orang sudah mengetahui bahwa eksponen merupakan pelajaran SMP, dan tergolong mudah untuk dimengerti. Saat guru saya menjelaskan, beliau menggunakan tempo yang lambat dan SELALU BERTANYA kepada kami (kelas saya) jika sudah mengerti atau belum, pastinya mengerti dong (atau itu dugaan saya saja). Setelah pemberian materi, kami dikasih latihan yang isinya HANYA materi yang disampaikan. Tak lama, 10 menit saya selesai, saya mengumpulkan ke guru saya. Saat saya menunggu pengecekan dari guru saya, saya sambil melihat keadaan kelas, waduh.. kagetnya minta ampun. Kenapa? Ternyata banyak banget yang main hp doang, apalagi posisi hp nya main game.
Setelah pengecekan, saya balik ke meja saya. Ada 1 teman kelas saya yang duduk di depan meja saya tiba-tiba memutar balik badan dan bertanya "Ajarin no.1 dong, aku ga ngerti." Ya Allah, saya istighfar.. karena pertanyaannya sangat mudah sekali karena ini juga materi SMP, seinget saya soal-nya itu "Apa hasil dari x^1/2?" Walaupun begitu, tetap saya ajarkan, tetapi saya masih bingung, kalau dia tidak mengerti materi ini, mengapa tidak bertanya saat guru menjelaskan?
Semoga kedepannya, pendidikan di Indonesia bisa maju dan menjadi lebih baik. Dan besar harapan saya, semoga banyak anak-anak/remaja sadar adanya kepentingan pendidikan dan tidak hanya bermalas-malasan. Maaf jika ada salah kata yaa hehe
Di bilang SDM rendah marah, tapi liat kenyataan nya pada generasi muda sekarang miris, pengetahuan umum aja gak tau, Pancasila gak hapal, apalagi soal bertutur kata yg sopan seolah jauh dr generasi muda kita, sedih... Mau di bawa kemana masa depan bangsa kita
Bukan miris lagi. Menyedihkan!
Yg waras dah capek bersuara kepada pemerintahan.. Makin kesini makin kerasa neraka nya
@@whammusilvesterado529 waduh, statement ini sebenernya kalo beneran terjadi tanda mau hancur. salah satu indikator menuju kehancuran itu adalah diamnya orang yang punya kapasitas.
Kita semua harus bersuara sih... Ga bisa diem aja generasi muda kita jadi ambyar..
Bersuara bukan berarti antipati
kalau bodoh kan gampang disetir influencer
setuju, padahal warisan tatakrama itu penting sekali
Setelah menonton video ini sebagai anak kelahiran 90an, saya merasa bersyukur dengan sistem pendidikan dan kurikulum zaman saya sekolah dulu. Walaupun tak sempurna tapi tak sebobrok yg sekarang. 🙏🙏🙏
Saya kelahiran 81... Alhamdulillah masih ngerasain sistem pendidikan yg sederhana tapi PMP(Pendidikan Moral Pancasila)masih diterapkan dengan baik 😊
ya pendidikan dulu lebih baik cuma implementasinya di kehidupan sehari hari ga maksimal karena minim kesadaran..
kalau anak sekarang lebih banyak ga sadarnya 😂😂😂 ngeselin sumpah
Kurikulum dan sistem skrng kyknya dah kacau.
Plus katanya setelah ditiadakan UN sekarang orang dari indonesia gak bisa masuk kampus di luar negri karena atau gimana gitu. Pokoknya jadi lebih sulit
@@ShalahuddinMYusuf temen saya yg guru SMP juga pernah cerita kalo ada muridnya yg masih ngeja kalo baca.
Kan sedih liatnya, kemampuan dasar seperti membaca aja masih belum fasih dan menguasai terus bagaimana mau mengerti dan memahami materi pelajaran yg lain dengan tingkat kerumitan yg pasti meningkat seiring naiknya tingkatan pendidikan (kelas dan jenjang). 😔😔
coba kita breakdown (MUNGKIN) :
1. sistem pendidikan mau dibebaskan, malah jadi bingung semua karena dibebaskan
2. kurikulum baru terus, sekolah malah sibuk belajar administrasi baru daripada mengajar
3. orang tua lebih malu anak tidak naik kelas ketimbang anak gak bisa apa²
4. guru sulit memberi nilai karena terlalu sering dapat intervensi orang tua karena zonasi rumahnya pada deket² bahkan ada anak yang orang tuanya juga guru senior di sekolah lalu menekan guru junior supaya nilai anaknya dibagusin.
5. anak terlalu sering jam kosong karena guru² sibuk rapat, kombel, dll bahkan sibuk urus administrasi, sertifikasi, dll
6. anak kurang diperhatikan orang tua di rumah, orang tua banyak menganggap anak udah pake seragam ke sekolah berarti sudah belajar
7. fasilitas sekolah kurang memadai karena banyak sekolah yang masih bingung mengelola keuangan dana BOS beserta sistem administrasi nya
8. monggo diterusin..
Sebagai org yg pernah gak naik kelas 2x di SMP jaman 2007 gw rasa masih ok2 aja karier gw karna dulu IPK gw 3,3 wkwkwkw malu karna pernah gak naik iya tapi gak nutup kemungkinan dapet kerja apa engga sih karna yg dilihat skill dan kemampuan dibidang kerja. Aneh emg malu karna gagal, gagal itu harus ada supaya belajar tidak gagal lagi dan jadi berhasil.
Kurikulum baru kyk nya lebih cocok sama sekolah top kyk bpk penabur, mh thamrin, dsb, karena bisa belajar sendiri + pintar dari sananya
Kalau diterapkan pada sekolah biasa atau terpencil, bakalan kewalahan, krn bingung dgn materi dan cara belajarnya, apalagi banyak dari mereka yg kesulitan membaca, menulis bahkan beberapa mereka aja, ada yg abk (kek tunanetra, tunarungu, dll)
Yah logikanya ga masuk negara berkembang ngikutin negara maju, China ajh pendidikan diperketat ujiannya ini malah dibebasin
ane lanjutin (EMANG DI DENGER?) :
8. Sekolah di jadikan ladang bisnis.. dan segala sumbangan bersifat wajib dan uda di tentukan dri sana nya kek sumbangan PMI.. bukan suka rela (coba cek beritanya)
9. Birokrasi di dunia Pendidikan kacau balau.. you get the point?
10. Informasi tentang Kegiatan sekolah sering ga jelas dan mendadak.. guru yg satu bilang A.. guru B bilang B.. dan kepsek bilang Z.. kadang bisa berubah-ubah
11. oknum kepsek kadang Korupsi
12. silahkan lanjutkan.
Setuju
Buat Pak Nadiem
Dengan segala respect Pak, jika Bapak mau peduli sama sistem pendidikan Indonesia
Ga perlu 2 periode Pak untuk tahu bahwa sistem yang Bapak terapkan itu GATOT / GAGAL TOTAL
Terimakasih Pak sudah membuat Sekolah Negeri menjadi Bobrok dan membuat seakan2 tidak ada pilihan kecuali Sekolah Swasta yang Harganya dimainkan semau mereka
Terimakasih ya Pak Nadiem
Jaman saya sekolah dulu, Sekolah Negeri adalah favorit masuk dan Sekolah Swasta hanya bagi mereka yang ga bisa masuk negeri dan berani membayar lebih
Namun Sekarang ?
Terbalik 180 derajat berkat kinerja Bapak
Bravo Pak Nadiem
Saya berkomentar dari kacamata guru
1. Maksud pak nadiem baik ingin pendidikan maju seperti finland, tapi pak nadiem lupa kesenjangan di Indo sangat sangat tinggi dlm segala aspek termasuk siswa a dgn b, sekolah a dgn b, ortu a dgn b. Mungkin yg bsa mengikuti penerapan kumer dgn maks hanya sekolah2 di kota besar saja (yang kelasnya sehat tidak gemuk)
2. Apa fungsi nyata PGRI dlm dibentuknya kurmer?
3. Guru administrasi dan tugas tambahannya banyak, bagaimana mau kerja ngedidik kalau sibuk ngurus administrasi harian, bulanan bahkan naik pangkat dll. Kalau saya disuruh milih ngajar / selesaikan administrasi tentu sy realistis sy selesaikan administrasi. Karena kalau administrasi tdk beres, gaji dan tunjangan saya bisa tidak cair.
4. KTSP (mapel) K13 (tematik) KUMER (mapel) otomatis BELI BUKU PAKET BARU BUKU LAMA TERSISIH DI GUDANG = PEMBOROSAN ANGGARAN
5. Siswa tidak naik kelas = tidak bagus utk sekolah = dinas = masalah. Jadi ? Naik kelas saja biar tidak masalah
No. 3 terlalu lebaya menurut saya..untuk jaman sekarang administrasi tidak begitu berat. Kembali ke diri kita saja toh.
@@tatangsyarifudin3710 tdk begitu berat klo coppas yaaa
Setuju bang
@@tatangsyarifudin3710malah berat sekali, kasian yg senior
finlandia, gaji guru gede bos, murid pun difokuskan sesuai skill fokus nya masing-masing, gak ada peringkat, bukan jadi nomor satu tapi jadi satu satunya, gak ada pembully-an di finlandia, APANYA YG INDONESIA NERAPIN SISTEM FINLANDIA? TOLOL KOK DIPELIHARA, AYAM DIPELIHARA ADA TELORNYE.
Mama saya seorang guru umur 57, tiap pulang sekolah dan hari libur pegang laptop untuk admin sekolah, not to mention all papers and equipments are upon personal expenses. Beliau tertekan karena terlalu banyak admin yg harus d selesaikan.
Administrasi pendidikan sekarang adalah yg paling buruk yg pernah ada!
Saya sebagai dosen can relate kak, seharusnya pekerjaan pendidik ya mendidik bukan jadi ahli administrasi
Bener temenku juga guru dia ngeluh terus soal administrasi yg harus dikerjakan belum anak didiknya yg dia ngrasa gagal dalam mengajar dan belum tekanan keluarga juga.
Ditambah lagi dengan kepsek yang dikit2 ngancem mecat temen2 honorer 😢
Wkwkwkwkw@@wikaprasti
3:25 keliling indonesia buat identifikasi problem sistem pendidikan kalau diagendakan oleh kemendikbud butuh baiya berapa tuh? Lah ini uda Ferry modal sendiri, se serius itu riset nya. Makasih da Ferry mewakili tugas kemendikbud secara cuma cuma 😢
boro2 mikir dana riset.. DI DUNIA PENDIDIKAN... ujung2nya SAMA AJA PADA BUTUH BUAT #SETORAN
Yang pasti nilainya besar.
Padahal,satu orang satu provinsi Sudah cukup.
Lebih lagi,1 orang sudah cukup.
Jelas sekali..
bahkan utk mengetahui problem pendidikan di indonesia kita tdk harus repot2 keliling indonesia,cukup kita melihat di sekeliling kita ditambah sedikit baca2 artikel dan berita kita bisa tau masalahnya
yakin valid??? Gaada kredensial yang bisa buktiin, jangan asal ngomong
@@muhammadridho7680🤡🤡🤡 buzzernya Nadiem
Yang jadi guru sekarang harus nymbi jadi motivator....
Memotivasi para muridnya agar LBH menghargi betapa pentingnya menjadi lebih baik
Gw inget ada yg posting meme tangga gtu di twitter mu bang,
Kita perlu ngurusin
1. Kesejahteraan guru
2. Kesetaraan fasilitas
3. Peningkatan kompetensi guru
4. Pembentukan kebudayaan berliterasi
5. Baru ngomongin adopsi sistem finlandia
Nah pemerenteh kita naek tangga dari 0 sampe ke 5 langsung
Gaji gak sepiro, disuruh ngajar gak kiro-kiro.
@@muhammadarsyad5834 jangan jadi guru lah
Bener banget
*Kesejahteraan Guru (yang berkualitas)
Setuju
Bang, gw suka cara ente kritik pemerintah dengan data dan solusi. Lanjutkan!! supaya Indonesia bisa lebih baik lagi kedepannya aamin.
utk solusi jg gw rasa semua org hrsnya tau sistem zonasi itu hrs dihapus seluruhnya. gw bingung aj knp pemerintah kita malah yg g paham akan hal itu.
@@blepblep7245 menarik nih untuk dikaji.
Selain demo, ada gak si suatu cara biar pemerintah itu bisa menampung aspirasi maupun kritikan kita?
Harusnya diadain ni, jadi cakep. Demi kemajuan negara kita.
@@dimasbesaralex5586 susah sih. program bgtu hrs dtg dr pemerintah yg mau mendengarkan rakyatnya. sementara itu pemerintah kita dah di demo jg kea pura2 tuli aj.
@@blepblep7245 setuju!!
Yang di sampaikan Ferry Irwandi cuma kulit dari masalah pendidikan Indonesia, tapi tidak ada solusinya.😂😂😂😂
Sebagai korban zonasi 2019, sempet depresi dan sampe kebawa sekarang kuliah, aku mau ngomong, TOLONG VIRALKAN GAGASAN INI sampe dilirik sama stakeholder yang berkepentingan!
sama nih korban zonasi jg wkwk, semangat ya kak kita harus menerimanya mau gmn pun udh lewat tapi semoga aja adek2 dibawah kita ini ga ngerasain jadi korban zonasi. Semoga pemerintah apalagi mentri pendidikan bisa sadar.
Aduh kak satu generasi kita saking depresinya sampe kuliah aku gapyear aja biar matang 😢😢
Alasan penyelenggara pendidikan: kami hanya menjalankan tugas sesuai arahan dari dinas.. gitu ya?
Setuju sih
Saya juga korban zonasi 2017😭 kebanyakan utak atik kurikulum
Hal yg benar2 saya ingat dulu tanpa gadget, tanpa teknologi terkini saya semasa SD sudah mampu membayangkan bagaimana negara2 di wilayah Eropa dengan memahami peta, tata letak, nama negara, dan hal2 yg erat kaitannya dengan materi tsb. Dan kini saat saya ceritakan, saya ajarkan kepada anak saya begitu sangat2 menyedihkan dia bahkan tidak paham peta negara Indonesia sendiri, lantas bagaimana mau memahami negara lain 😢
Bang gue ngikutin lu sejauh ini, gue lumayan bisa nangkep logika berfikirlu. Gue berharap orang2 kaya lu bisa bikin indonesia lebih baik dari dalam kursi pemerintahan. Gue usia 29thn lulusan S1 Ekonomi di Univ swasta yang gak terkenal sejauh ini pun belum bisa ikut kontribusi apapun buat negara 😢 sedih rasanya liat kemajuan pendidikan di indonesia yang gue rasa malah makin mundur dari zaman gue dulu, mulai dari biaya yang makin mahal, sama lulusan sarjana yang justru tidak lebih baik taraf hidupnya sekarang. 😢
Daripada niru sistem Finlandia.. mending Indonesia niru sistem Vietnam aja sih.
Saya pernah liat video ada yg bahas kenapa sistem vietnam bisa jadi bagus, itu karena sekolah di sana fasilitas baik di kota dan di pelosok sama semua, kemudian para guru disejahterakan baik yg di kota atau dipelosok jadi mereka tinggal fokus untuk mengajar. Kalau di sini kan nggak.. guru2 negri dan swasta yg biasa2 gaji minim murid tambah banyak trus ditambah embel2 "jangan diliat gajinya tapi liat jasa2nya nanti", eh di wakandagakure pejabat malah disejahterakan.. terus minta murid2 kita hasilnya bagus.. cara berlogikanya gak masuk di saya.
Setuju
guru pns itu uda sejahtera
tapi apa ? makin malas
di surunya orang ntah darimana jadi guru honor yg di gaji dari dana bos
@@afrizal46162 salam anjing untuk guru-guru PNS koruptor
Terserah aja sih. Tapi aku yakin banget sih setelah niruin sistem pendidikan vietnam ujung2nya kacau lagi 😏. Dan kemudian ada postingan sosial media yg nunjukin negara yg sistem pendidikannya sukses kemudian netizen minta indonesia niruin sistem pendidikan negara tersebut dan siklus pun berulang lagi dan lagi 😌.
@@syahelsouth3995
Knp ngurusin omongan netizen itu sama aja nanam jagung di polibeg kemaren proyek banyakan gagal nyaho😂😂😂
Saya suka kata-kata dari bang irwan prasetyo "kalo merasa diri masih miskin dan bodoh, ya pendidikan harus 2 atau 5 kali lebih banyak dong, kaya korsel dan china", hasilnya bisa kita lihat, mereka jadi negara maju
orang indi itu mayoritas NPD, uda malas nanti di nasehati play victim
Vietnam berikutnya. Sudah terbukti banyak yg invest ke sana
Setuju sekali. Salah satu hal penting untuk menaikan taraf kehidupan adalah menaikan level intelektual.
Permasalahannya sistem korsel dan china itu tergolong "instant" Dan dampaknya akan sampai terhadap mental anak-anaknya (stress karena tekanannya gede) jujur saja daripada pake sistem itu dan ujung-ujungnya anak-anak malah ngeluh, mending kita ikut barat(tahu sendiri mereka membangun pendidikan lama banget dan itu berabad-abad tapi kalian bisa lihat sendiri hasilnya gimana) dengan begitu juga, murid-murid belajar di sekolah bukan untuk nilai saja tapi untuk mengubah cara pemikiran mereka dan diharapkan dapat divisualisasikan dalam kehidupan mereka.
Disclaimer:saya gak peduli Indonesia mau pake sistem asia Timur atau pun barat, karena saya tidak punya otoriter saya hanya ingin fondasi pendidikan kita saja merata karena itu lah yang mempengaruhi sistem kita ke depannya.
@@omaygad245 menurut gw Indonesia blm siap untuk ngadopsi kurikulum barat, karena pd dasarnya orang2 sini msh mengidap pemikiran dogmatis tanpa mengedepankan rasionalitas dan individualisme. Jadi, selama mental masyarakat Indonesia tidak berubah, satu-satunya cara paling realistis menurut saya untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan mengikuti kurikulum asia timur karena sdh terbukti bisa mentransformasi Korsel, China, dan Jepang menjadi setara dgn negara barat dalam kurun waktu 30-50 tahun saja.
Kembali lagi, apakah Indonesia berani mengorbankan rakyatnya?
Saya guru smp negeri yg hampir pensiun. Cuma bisa berharap menteri baru bisa mengurai masalah pendidikan yg rumit satu demi satu. Memberi solusi yg lebih bisa diterima dan memperbaiki mutu pendidikan kita. Saya juga mengajak semua untuk bersabar, agar pak Abdul Mukti bisa menentukan kebijakan yg terbaik buat anak anak kita.
Ane 27th. Di tongkrongan ada bocah esema yg baru lulus kemaren. Dia nongkrongnya ama kita yang tuwir-tuwir. Kita ghibahin janda desa, dia ngerjain PR-nya.
Sempet ane tanya, "Kok ga ngerjain bareng temen sepantaranmu?".
Dia jawab," Ngga bang. Mereka gada yang ngerjain PR. Paling kalo ngerjain juga itu AI semua."
Mantab!
Bantuin bang,saya dan istri juga pusing bantuin anak anak tetangga udah kelas 5&6 sd gak bisa hitung dan perkalian dasar 100,bahkan ada yang kesulitan nulis.setiap kali kami tanya anak anak itu selalu jawab guru rapat kami hanya di suruh buka LKS dan ngerjakan tugas tanpa bimbingan.
Kami bukan guru bukan pula orang tua anak anak itu tapi kami pusing 7 keliling.
@@ekoprtm5841 ini di daerah mana bang?
Semoga kebaikan yang diberikan menjadi berkah bang@@ekoprtm5841
Terus mereka ngapain ?
Apalah jawab pakai AI yang ada salah semua...🙀
gw beberapa minggu lalu tiba² didatengin tetangga minta tolong buat ngajarin anaknya baca tulis. gw kira anaknya yang paling kecil (masih sd kelas 1) ternyata anaknya yang paling gede (7 smp).
gw langsung shock karena ternyata kasus separah ini ada di deket gw
padahal didikan pertama dan awal itu bukan sekolah, tp keluarga & lingkungan... miris emng... + disekolah malah ga ada perubahan
yang paling parah adalah orang tuanya itu mas wkwkwk
Kan😢 bahkan ada yang SMP perkalian 3 aja gak bisa😢
org tuanya kmna aja, smpe ank ukur sgtu blm lancar baca
Anak gue tk udah gue ajarin baca, kesalah ortu dan guru
FYI sy kerja di lingkungan pendidikan.. Sharing aja fakta yg sy temui
1. Saat uji kompetensi sertifikasi guru SD, dalam satu kelas ada yg tidak bisa mencari rata rata.. Kalau jadi guru kemudian apa yg diajarkan kalau Guru saja tidak bisa pembagian. guru dijawa tengah, gurunya relatif sepuh.
2. Anak kuliah tidak bisa penjumlahan puluhan, misal 27 +56... anak kalimantan walaupun cuma 1 (walau tidak bisa digeneralisir)
3. Anak kuliah dari indonesia timur mostly kesulitan mengejar studi di perkuliahan dan butuh matrikulasi pun tetap berat akhirnya dioper ke PRodi yg basic seperti PGSD. Dugaannya SD, SMP, SMA disana fasilitas kurang.
4. Banyak guru militan yang bersedia mengabdi didaerahnya (luar jawa) tapi mohon fasilitas dan perhatiannya thd kesejahteraan guru.
dari diatas menunjukkan adanya GAP dan juga rintangan yg belum bisa dihilangkan.
BTW terimakasih sdh bersuara, takutnya Gen Z atau apapun itu jadi takut kalau tidak kompeten didunia kerja.
Betul mas permasalahan nya bukan cuman sistem ya, soalnya saya pernah bantu guru buat bikin modul ajar dan cp atp mau akreditasi karna dia gabisa apa2 bahkan ngetik dan ngedit pun masih kebingungan padahal masih muda, saya bukan orang pendidikan jadi tidak tau sepenuhnya sistem guru mengajar bagaimana tapi setelah melihat kayaknya tanggung jawab yang ingin menjadi guru masih kurang juga terus kan ada cp dan atp harusnya pelajar yang kurang terlihat tidak sesuai bisa dievaluasi kan apa dibuat cuman pas ada akreditasi doang?? Saya gatau sih maaf kalo salah
Tolong selamatkan generasi gen alfa, bayangkan mereka di masa depan teknologi semakin canggih, mereka jadi apa kalau sistem pendidikan seperti ini terus.. 😮 menuju indonesia cemas
Kaget banget baca poin no 1
Betul sih mas kebetulan saya gen z jadi pengajar dan emg bener pendidikan kurang banget
@@aisali6630teknologi canggih jaman now ga buat generasi hari ini semakin cerdas
Gue kelas 12 sekarang dan udah bener2 muak sama yang namanya sekolah. Temen gue bilang benci sama yang namanya koruptor, wkwkwk. Tapi apa? Mereka malah ngebudayain nyontek. What the hell. Otakmu gunain dong, gue keselll, muakk, apalagi sama anak yang nanya tugas padahal tugas itu piece of cake wkwkwk. Kalau ngga di kasih contekan tantrum. Sedih kalau ngeliat orang-orang kayak mereka, miris banget ya pendidikan Indonesia😢
Mau cerita gw lulus SMA satu tahun lalu, fyi sedari SD sampai SMP gw selalu berperingkat karena semangat belajar gw tinggi, sebelum suatu materi dijelaskan oleh guru gw udh mempelajari duluan materi tersebut dirumah, jadi semisal ada jamkos pun gw gak main main kaya org lain, gw lbih milih buat ngerjain soal yang sempet kelewat sama guru, baru ketika guru ada waktu luang gw bertanya apa yg gw belum faham soalnya materi yang dilewatin tersebut.
Masuk ke SMA, lebih tepatnya gw SMK kejuruan, disini gw kenal yang namanya handphone, karena kondisinya juga korona yang mengharuskan belajar daring. Dari sini gw kenal game kenal laki" kenal pergaulan yang lebih frontal. Dan hasilnya bisa dibilang iq gw nurun.
Gw males ngerjain pr dan lebih milih untuk nyontek jawaban. Bener" berbanding terbalik sama gw yg dulu
Setelah daring selama satu setengah tahun perlahan" mulai belajar tatap muka, singkat cerita masuk kelas 12 yang makin banyak praktek tetapi juga makin banyak jamkos, orang" pun pada meremehkan jam kos karena pikirannya hanya yg penting bisa praktek. Toh pasti juga di lulusin
Jadi pesan gw untuk lu tetep semangat belajar, jgn ikutin pergaulan toxic, jaga kesehatan dekati teman" yg baik,, gapapa temen sedikit yg penting ga merugikan untuk lu
Gw seorang guru, dan sumpah gw merasa tersiksa dengan model pendidikan sekarang, siswa susah banget diajarin, menurut gw adalah siswa sekarang terlalu dimanjakan dengan kurikulum yang ada.
Pendidikan Finland sangat tidak cocok menjadi acuan kita, menurut gw kita seharusnya jadikan India atau Korea Selatan sebagai pembelajaran, mereka bukan meniadakan ujian, tapi malah membuat ujian menjadi patokan pendidikan sehingga siswa memiliki keinginan belajar agar lulus ujiannya.
Keadaan memanjakan siswa justru menjadikan siswa kita lemah, lembek dan bodoh.
Tantangan yg salah satunya adalah ujian harusnya muncul untuk membuat siswa kita menjadi tangguh.
Tinggal ngasih les tambahan pulang sekolah, itung** ibadah, g kaya sd samping rumah guru ke kantor cuma wifian ma bikin proyek ghoib buat sertifikasi
Bukan masalah kurikulum lebih ke peran orang tua, pendidikan pertama yaitu dari orang tua, bnyk ko klo kita lihat study case nya apa aja, luas bukan hanya kurikulum, liat manusianya juga, lingkungan nya, kita bisa lihat ko negara-negara maju bisa ko mendidik generasi mudanya, hanya saja lingkungan untuk anak-anak di Indonesia sangat abstrak terutama fasilitas untuk pendidikan, sedih sih klo liat secara luas pendidikan Indonesia sulit berkembang dan maju karena mafia nya
Balik lagi seperti dulu. Tinggal lagi permasalahannya bisa jujur tidak saat ujian. Kalau ujungnya2 guru kasih kunci jawaban seperti UN dulu ya sama saja.
anak nya mental tulang lunak
belum lagi ortunya ribet nga bole ini nga bole itu, israel lah apa lah
butuh pemimpin egaliter
tangan besi
biar di libas asn malas, murit malas
indonesia darurat malas
Bukan masalah ujian ibu guru tetapi masalah psikologis pernah kah anak ibu dibandingkan dengan orang lain diatas padahal anak ibu sudah belajar mat* mat*an Al hasil anak anak menjadi optimis tapi menjadi persimis trus di Korea itu jam 09 malam baru pulang sekolah loh apakah ibu tega menyuruh anak anda sekolah sampai jam sembilan malam pas pulang di suruh belajar lagi.
benar kata prof stella christie, tujuan dari studi banding ke negara lain itu bukan untuk MENJIPLAK sistem pendidikan negara lain, tapi sebagai variabel dan sampel pembanding, jadi pembanding itu butuh variabel dan sampel yang lain, dengan perbandingan perbandingan itu nanti diperoleh formula yang pas untuk diterapkan dengan melihat realita keadaan di negara kita yang pastinya berbedadengan negara lain
Soalnya studi banding yg udah² kebanyakan hang out sihh..*upss
menurut saya : sistem pendidikan di jepang lebih tepat jika diterapkan di indonesia,dimana sejak kecil dilatih untuk mandiri, disiplin,tertib,saling menghargai orng lain baik itu di lingkungan sekolah,kelas/luar sekolah jd ketika anak tsb sudah dewasa akan menjadi individu yg berkualitas yg faham betul tertib aturan
Yang harus ditanamkan dari kecil itu kejujuran. Percuma sopan tapi maling. Katakan tidak untuk mencontek dari dini
@@ratriputri3492 ya jepang itu... disuruh nyapu sama nyiapin makan siang dan ga boleh jajan sampe pulang lagi...
Sekolahku dulu setengah menerapkan pendidikan Jepang. Diajarkan menyapu, mencuci piring, menyetrika pakaian.. sampai ada orangtua murid geruduk sekolah, mereka protes katanya orangtua sudah bayar mahal mahal masuk sekolah, di sekolah anak diajarkan jadi pembantu 😅 habis itu pelajaran practical life ini ditiadakan sementara sampai ada hasil mediasi
orang tuanya gak tertip, gak disiplin serba instan
Tp mesti diubah jg, jgn main tempel aja.
Ingat! Tingkat depresi dan bundir anak dan remaja tinggi.
keren bang, memang harus kayak gini biar pada ngerti. karena untuk memajukan pendidikan tidak hanya terfokus pada sekolah tapi perlu support dari pemerintah maupun masyarakatnya.
Semoga Prof. Mu'ti, menteri pendidikan yang baru mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan secara menyeluruh di negeri ini...
anjas bang den
@@denaldyrafid5691 anjayyy denaldy...
Bertahap kek nya bang. Soalnya beda sekolah, beda problem.
Iya tp Prof Mu'ti kebagian yang pendidikan tingkat tingginya, tp gpp, wakilnya juga seorang praktisi di dunia pendidikan, semoga ada secercah harapan untuk pendidikan kita
Sistem zonasi membuat anak2 berprestasi yg rumahnya jauh dari sekolah negeri putus asa... Kenyataanya hanya peringkat satu dan dua yg berpeluang ke negeri lewat jalur prestasi. Anak yg dekat sekolah negeri gk usah belajar cukup absen saja dijamin masuk negeri... Sekolah swasta menengah ke bawah fasilitas amat sangat jauh dari sekolah negeri.
Kembalikan UN, Kembalikan jiwa dan semangat siswa yang kompetitif. Kita harus bangun anak-anak yang siap bersaing dan tidak takut bersaing.
Toh, dalam kehidupan mereka nanti mereka akan menghadapi persaingan hidup, persaingan mencari pekerjaan dan persaingan dalam segala sesuatu.
UN buatan zionist hanya pembodohan.
Membuat sekolah harus meluluskan siswa dengan cara yg curang.
Kembali ke kelulusan yg menilai hanya guru.
Sebab guru yg tahu perkembangan anak di kelas.
Efek zonasi. Menipu alamat KK. Dan siswa disekitar sekolah rata rata pemalas. Karena kemudahan masuk PPDB zonasi. Giliran tugas entah pribadi atau kerkom ga mau ngerjain.
beh goblok dn tolol aja naik kelas
Jaman gw dulu kalo gak bakal naik kelas
Jaman adek gw TK yg gak lancar baca tinggal kelas di TK b
Ada yg ngulang 1 tahun karena blm bisa membaca
Mengkaji ilmu itu harus jauh dari pengaruh kompetitif, kompetifif itu mental budak bukan pencari ilmu.
Baru 3 tahun, belum ada statistik dan perbandingan aja udah gak sabaran
Anda punya anak usia sekolah, atau di usia sekolah? Jika tidak, berarti anda cuma ikut2an bacot tanpa dasar.
menurut ku jika ingin memperbaiki pendidikan di indonesia itu hal yang pertama di tangani itu ekonominya dulu. karna guru yang paling utama untuk seorang anak itu adalah "ORANG TUA", ada banyak orang tua yang kurang mampu untuk makan pun susah dan bagaimana mereka bisa memperhatikan anaknya sedangkan setiap hari mereka terfokus untuk mendapatkan sesuap nasi, setiap sepulang mencari sesuap nasi mereka kelelahan sedangkan penghasilan yang di dapatkan hanya cukup untuk 1 hari saja, bagaimana bisa mereka berpikir tenang mendidik anak anak mereka, memperhatikan anak anak mereka sedangkan hal yang mereka pikirkan "BAGAIMANA BESOK BISA MAKAN!!!!". Mungkin bagi anda yang memiliki ekonomi yang stabil berpikir pendidikannya yang salah, karna orang tua anda juga ikut berperan dalam mendidik anaknya dan tidak perlu memikirkan "
"bagaimana bsok bisa makan"
bang konten lu bagus-bagus, selalu mengedukasi, tapi plis, dengan lu membawakan acara sambil MEROKOK menurut gw kurang pantas, karena banyak juga anak pelajar yang menonton ini, dan seperti menormalisasi prilaku meroko itu sudah menjadi hal yang baik2 saja
SETUJU
baru mau komen begitu, iya bang, sayang bener kontennya daging tapi ada hal yg tidak pantas untuk ditiru
Sepakat, kritiknya sangat bagus. Tapi rokoknya...
Orang perokok itu biasnya egois& suka larut dlm dunianya sendiri. Karena aq dulu juga perokok juga sih
@@RyanLabombaTVGa sepakat, gw perokok dan gw merasa empati dan kesadaran sosial gw jalan
banyak jg yg kek gw
Alih-alih pake Kurikukum Merdeka, pakai aja sistem kurikulum realistis dan logika. Mengedepankan pemanfaatan lingkungan dan memaksimalkan kemampuan baca, tulis dan hitung. Sisanya peserta didik diberi gambaran banyak keahlian yang bisa diraih dengan belajar. Memfokuskan pada skill ketimbang laporan bulanan yg isinya blom tentu sama dengan praktek kerjanya.
Nah ini yang bagus sarannya
Ubah aja tuh sistemnya suka-suka lu, gak ada bedanya dengan menteri pendidikan sekarang atau yang terdahulu 😂
Lu ngomong apa anying
@@baymact Yoi Konsumsi aja Tiktok dan reels reelsnya sampe tolol 😂
Malam-malam gini enaknya baca pemikiran naif seperti lu nih ☕
Bang Ferry adalah penyampai keresahan masyarakat terbaik hingga saat ini, semoga dapat diterima dengan baik oleh yang seharusnya menerima dan berdampak dengan benar seperti bagaimana mestinya 🙌
Yoii th-cam.com/video/c4yoUWpsHwA/w-d-xo.htmlsi=CTNIwHmzoowNdlIl
Anak SMA gak bisa baca gak masalah dari pada dia gak bisa baca gak sekolah depresi jadi gembel merdeka pemerintah makin merajarela korupsi merdeka korupsi..!!! 👍👍👍
Saya guru, dan apa yang abang jelaskan sangat mewakili kenyataan yang terjadi saat ini. terimakasih,, semoga perubahan itu nyata
This is real....saya pengajar di SMA. Dan 3 th terakhir, saya makin terkejut, karena semakin banyak siswa yg belum lancar membaca, bahkan beberapa diantaranya masih mengeja.
Masalah hitungan, begh...."42-39=...." gak ada yg bisa jawab. Pas ditanya, "kok gak ada yg jawab?" Jawab mereka "Kn 2 gak bisa dikurangi dg 9, bu" 😮
Oh....penalarannya kemana....😢
Kelas 10 lho itu.....SMA kelas 1.....
Gimana guru gak stress, kl murid yg dihadapi seperti itu.....😢😢😢
Duh kok serem banget Bu , makanya anak saya dr TK sudah saya didik sesuai dengan apa yg saya pelajari sewaktu saya sekolah dulu, pas kelas 1 SD anak saya sudah hafal perkalian , sampe sekarang sudah kelas 5 SD anak saya sudah saya ajarkan pecahan campuran, pembagian , sampe anak saya nyeletuk, " kawan-kawanku aja belum hafal perkalian Mak, tapi aq udah mamak ajarkan pembagian" ,. Walaupun di sekolah anakku ga seburuk yang di berita2, dimana disitu untuk kelas 1 di semester pertama itu di fokuskan untuk calistung, setelah itu barulah mulai masuk pelajaran2 yg berat. Jadi kayaknya ini masalahnya ada di anak yg terlalu di biarkan atau orang tua yg merasa, ah ngapain cape2 ngajarin, toh udah pasti lulus, . Maybe , just my opinion Bu guru .
@@rahayuwindayani4316 oh... Bisa jadi karena minimnya pengetahuan orang tua utk khawatir dgn kemampuan anak....
Balik lagi ke MINIMNYA EDUKASI PARENTING di lingkungan masyarakat....
@@rahayuwindayani4316 tidak semua ibu atau bapak punya kesadaran untuk mendidik anaknya dengan baik, karenanya itulah peraturan dan sistem pendidikan dibuat untuk mengatasi tantangan yang ada. Seandainya orang tua kebanyakan seperti ibu maka bagus, tetapi kenyataan tidak demikian. Dan anak SMA ga bisa hitung itulah dampak dari sistem pendidikan sekarang ini..
Saya juga ngajar PAI, SMA. sampai anak2 saya lulus anak2 saya beberapa ngga hafal rukun Islam rukun Iman, apalagi Rukun Ihsan 😭
Santai saja bu gak usah pusing. Kan merdeka . 😊
gw kepala sekolah baru, dan emang sejak gak ada sistem tinggal kelas, banyak banget penurunan kualitas murid. bahkan ada anak kelas 6 baca tulis aja masih sangat lelet dan bahkan pas ujian gurunya harus membacakan soal. Ada siswa yang kurang layak naik kelas malah terpaksa untuk nilainya di-kkm-kan. hadeuh
selera waifu mu bagus juga pak guru
Abang kan kepala sekolah ni,,,emang seberapa ngaruh sih angka tinggal kelas sama angka kelulusan terhadap reputasi sekolah?
Dan dampak signifikan nya apa kalo angka kelulusan rendah tanda kutip?
😮 whuuutt baru tau sistem tinggal kelas ditiadakan?? wakacau sih dipaksain naik kelas n lulus mah..
@@gokyumiemang begitu bang... saya juga guru di MA setingkat SMA ada bbrp yg gabbisa baca dan ada bbrp yg kalo baca masih ngeja wkkwkwkw
Sebagai anak seorang guru, salah satu kekurangan sistem ini ada pada terlalu banyaknya hal administrasi yang d kerjakan para guru, jadinya sibuk ngurusin itu , padahal tugas utama nya adalah mengajar anak didiknya, dan harus fokus bagaimana mencerdaskan anak didiknya .
Tapi celakanya kalau administrasi ngak beres bakal jadi makanan empuk LSM, Kejaksaan, Kepolisian, Inspektorat dll. 😢😢😢😢
Gak cuma di sekolah sekolah, saya pns di kementerian, cuma disibukkin urusan administrasi aja, dan kebanyakkan yg ngerjain non-pns, sebagian besar dari mereka gak bantu urusin substansi.
Jadi gimana negara ini mau maju, karena gak diurusin sama pemerintah nya.
@@Blooming.92 tull.. jaman AI naik pangkat masih #RIBET
@@babygamingyt4556harusnya ada struktur jelas di sekolah, siapa yang sebagai orang lapangan / guru, siapa yang sebagai pengurus administrasi / admin, siapa yang sebagai penentu kebijakan / kepala sekolah & comitte. Kayak struktur perusahaan. Jadi guru hanya mengerjakan administrasi sebatas membuat laporan apa yang diajakan ke murid untuk hari ini & sisanya di inputkan dan di susun oleh admin sebagai bukti administrasi. Lalu untuk penyusunan kurikulum bisa di sushn oleh penentu kebijakan dengan dibantu oleh guru2 lapangan
Gak ada waktu update pengembangan diri, penelitian, bikin soal atau modul ajar..... semua diserahkan dengan disuruh beli LKS
Merdeka Belajar ini sangat membantu gw banget sih, mungkin ini khususnya anak "Kuliahan", Program Kampus Merdeka, bisa ikut MSIB,Magang, Study exchange domestik/internasional,Mengajar,dll, dan ini bisa di lakuin sebelum semester 7, jadi 5,6, udah bisa ikut, yang mana menurut gw ini keren banget sih, karena materi di kuliah terlalu luas, dan dengan ikut kampus merdeka bisa mempersempit minat dan lebih intermediate dibanding materi kampus,
tapi dengan berita2 sekarang, semoga aja jangan kena stop kampus merdekanya, tapi gw setuju sih untuk SLTA kebawah untuk diubah, karena udah beda konteks, anak kuliahan tanpa kampus merdeka pun memang sudah bebas, mahasiswa nya masing2 yang menentukan, tapi yang dibawah itu masih labil parah.
Bapak dan ibu gw pensiunan guru di th 2021, banyak fakta2 buruk di dunia pendidikan dengan sistem sekarang.
1. Sistem zonasi, ada 1 SMA yang calon siswa mau masuk bisa lewat jalur belakang by kepsek. 1 kursi 10jt. Dan waktu itu ada 12 an calon siswa.
2. Semua nilai siswa sejelek apapun wajib KKM. Misal nilai asli 25, di raport tetap tertulis KKM 75. Karena jika banyak siswa yang nilainya jelek grade sekolah akan turun dan dapat teguran dari dinas. Fyi pas gw bantuin garap nilai raport, nilai si anak2 ini rata2 25-50 aja, per kelas cuma ada 1-3anak yang sedikit fiatas KKM
3. Wali murid selalu bela anaknya tidak peduli apapun kesalahannya.
4. Guru sedang menerangkan materi dan siswa main hp sendiri adalah pemandangan biasa
5. Tidak boleh terdapat siswa yang tidak naik kelas
Dan masih banyak lainnya
Fakta bgt
Fakta bngt Orang tua sering bngt mengabaikan anaknya
iya ini fakta bu, saya denger langsung dari ortu yg bayar agar anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut. kalo naikin KKM itu benar adanya karena suami saya guru, nilai 0 aja di rapot jadi 70...sediih, sya lihatnya, sekarang suami saya tidak lagi di sekolah dan milih bimbel aja karena manipulasi nilainya paraah...
Dengan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak jelas seperti ini. Pada akhirnya sekolah hanya menjadi ladang bisnis dan murid menjadi alatnya. Kadang siswa yang tidak tau menghitung dan baca dipaksa naik kelas dan lulus.
Indonesia mau dibwa kemana dengan generasinya seperti ini😢
Asli bener banget
Boleh gk sh jadi video trending #1 ni video? Trending #40 belum cukup 🥲 biar orang2 tuh lebih concern sama pendidikan Indonesia..
Terusin bang
Setuju
Nangis banget kalo bahas pendidikan
Jadi ingat film laskar pelangi sangat mengingatkan perjuangan pendidikan kita dulu😢😢😢
Waktu itu nyuruh anak-anak SD belajar dan menghafal, dan jawaban mereka
🧒: ga usah belajar lah sampe bel main bunyi
🧕: mau jadi apa kamu ga belajar? (Kesel, marah)
🧒: halahh buk kami jawab soal ujian ngasal aja tetep naik kelas kok, kan sekarang ga ada yg boleh tinggal kelas.
🧕: ga bisa berkata-kata lagi😢
Ayolah utk Mentri pendidikan buat sistem UN dan tinggal kelas biar daya saing diantara peserta didik itu ada
Yep, dengan adanya UN dulu kami siswa sgt semangat belajar demi dapat NIM yg tinggi spy bisa masuk ke SMP terbaik.
Benar" belajar keras.
Skrg, Zonasi aja bisa masuk ke sekolah terbaik maka tdk ada lagi istilah SMP/SMA terbaik yg menghasilkan murid" yg berkualitas.
Skrg menurut saya, sekolah Swasta adalah yg terbaik utk pendidikan anak" skrg.
Guru, "Ya silakan saja ga belajar kalo klean lulus nantinya bercita2 jadi gembel & pengangguran krn pengetahuan kalian 0 rupiah" ==>> dijamin siswanya yg mingkem 😆
yups, agak kaget juga waktu pertama ngajar, ada anak kurang bngt untuk naik kelas, wali kelas udah mutusin buat sianak tinggal kelas namun dari kepsek bilang "udah gpp di naikin aja, makin cepat lulus makin bagus"
Menurut ku UN perlu, tapi standarnya jangan terlalu tinggi agar tidak ada jual/beli kunci jawaban pada siswa dan guru...
Dan Sistem tinggal kelas itu penting sekali untuk siswa yg memang belum mampu..
@@petani_polyculturmending un sistemnya g usah pake pilihan ganda tp essay aja biar anak bisa berfikir nalar, soalnya dikit aja g usah banyak2.
Kelas 3,4,5,6 teman anak2ku jg masih banyak yang blm bisa baca tulis dgn baik & lancar . Sering tidak masuk kelas jg bisa naik kelas .. Mau gak mau guru terpaksa memberikan siswa naik kelas .Jd tidak ada semangat belajar siswa2 itu...
Hendaknya orang2 seperti sdr Ferry ini lah yang diangkat jadi menteri, atau wakil Presiden. Cerdas dan punya ide utk mengangkat derajat bangsa ini. Semoga next time, Insyaallah. Aamiin.
Setuju
Gak bisa juga, gk sanggup bang ferey bnyk politiknya juga disana
lebih baik begini bang ferry,berdiri sendiri sebagai kritikus publik mengenai kejanggalan yang terjadi di negeri ini,kalau sudah masuk mungkin saja bisa tapi mungkin tidak akan lama,karena sudah menjadi rahasia umum bahwa politik kita sudah benar benar kotor,maka dari dengan berdiri sendirinya bang ferry jadi tidak bisa di setir maupun dikontrol oleh orang orang yang ada yang lebih tinggi kedudukannya dalam politik Negera ini
Pentingnya Menteri Pendidikan yang minimal pernah jadi Guru, supaya tau arus bawah itu bagaimana, bukan hanya riset dari sekolah yang maju lalu sampling, dan akhirnya di terapkan merata di seluruh sekolah yang memiliki latar belakang daerah yang berbeda-beda..
Finlandia & negara2 Nordik itu basis kulturalnya Kristen, jadi mereka punya internal drive. Belajar karena mereka sadar pentingnya ilmu, bukan karena takut hukuman.
Sedangkan kita negara2 Asia kulturnya lebih ke azab-pahala, atau karma baik-karma buruk. Untuk kita lebih cocok kurikulum seperti di China yang keras & disiplin. China yang negara besar saja muridnya sampai diperes biar belajar mati2an sampe stres, di sini malah dibebasin & pasti naik kelas meskipun malas2an 😅
Lagi juga geblekk bocah konoha disamain dgn kultur finlandia 😂😂😂, ras beda, intelejensi beda, kultur beda, agama beda, bangsa beda, moral dan ahlak beda, kesejahteraan apa lg bagai langit dan bumi, habit juga beda, dan pejabat konoha samain itu semua dgn harapan hasilnya plek ketiplek mirip murid finland, ASLI GOBLOKK TULEN😂😂
Kemaren jamam SBY udah bagus ada ujian UN malah protes katanya menghancurkan masa depan anak 😂😂😂
Nah, dulu presiden sebelumnya yang nunjuk, bilang dari kalangan profesional, ekskutif. eh dari ojol... bukan basic pendidikan minimal guru atau dosen atau profesor. haadeeeuh...
Nahhh mas nya ini yg pantas jadi mentri pendidikan bangsa kita...faham betul dan berani riset keliling indo selama 5 tahun pula...
Semangat mas kritik terus soal pendidikan di negeri ini
Harusnya yang kayak gini perlu di viralin biar yang nggak paham bisa tau, dan aware sama dunia pendidikan yang sedang tak baik-baik sajaa.
can't agree more, punya saudara SMA masih belum hafal perkalian, mau dipaksa dengan dilatih tebak"an, juga ga mempan ke dia, akrena mau hafal atau ngga, ga ada efeknya. DIa tetap naik kelas dan bisa ngelanjutin sekolah pake zonasi. Kalau udah banyak kejadian kaya gini bukan individunya lagi yang kita salahin, tapi sistem dan kurikulumnya.
SEMOGA VIDEO INI TERSEBAR LUAS SUPAYA MENJADI PENGETAHUAN DAN EDUKASI BUAT MASYARAKAT INDONESIA SUPAYA LEBIH CERDAS
Indahnya sekolah jaman tahu. 90 an, guru2 yg ngajarin detail bgt menerangkan trun sekolah juga semangat untuk belajar sekalian bermain waktu istirahat 😅
Dari apa yang ibu deksripsikan tentang sekolah pada jaman 90-an, saya sebagai murid dari dekripsi tersebut tidak ada pembeda yang signifikan, kami juga masih bisa bermain, guru detail? Itu masalah perspektif dan masing² guru saja.
Memang hebat dua periode kemarin itu, anak-anak sekolah minim kompetisi, guru-guru sangat santai dalam mengajar bahkan tak perlu ada murid pintar semua dijamin tidak tinggal kelas dan tetap lulus sekolah. Pentas seni masuk kurikulum menjelang kelulusan siswa yang kadang butuh biaya mahal. Acara cerdas cermat di televisi sudah lama hilang, olimpiade matematika, fisika sudah tidak populer. Yang lebih miris malah judi online dan pinjaman online yang semakin marak.
Gila gw sedih bgt sama kondisi negeri ini, para pejabat kebanyakan udah gak peduli sama rakyat malah beberapa youtuber yg lebih peduli salah satunya bang Ferry ini. Dalam situasi kayak gini mereka bisa dibilang pahlawan sih
Emang udah paling bener. Masuk SD sampe SMA harus dites. Biar ada jiwa semangat belajar juga buat anak2
Yup bener nih, minimal tes pengetahuan umum. Ini bisa jadi solusi kalo nanti UN masih ditiadakan. Yaa minimal sekolah tau nih kemampuan si anak, dan si anak masih ada rasa bersaing. (Yaa ini bisa berjalan kalo kagak ada sogok menyogok sih wkwkw)
Dulu ada sekolah favorit, anak2 belomba2 masuk untuk masuk, skrng? Gk ada, anak SMA aja gk bisa baca
alhamdulillah, saya mengalami masa masa ketika Menteri pendidikan dijabat oleh Bapak Prof. Dr. Fuad Hassan,
terimakasih pak Harto, telah memilihkan orang orang terbaik untuk mengurus urusan kami.
untuk anak anak & cucu cucuku, tetap semangat !
Apa program beliau pak
@@amuntaidaffa4715 dulu sekolah Negeri jd kebanggaan, sekarang terbalik...
Betul SD negeri itu dl membanggakan bisa sampe lulus dapat beasiswa untuk kuliah kualitas nya sama bagus sekolah d swasta ..
Benar sekali, saya sebagai ibu yg sekarang sdh 48th, merasa bahwa zaman saya dulu kami berlomba lomba mencari SMP-SMA negri unggulan, sekarang saya justru berlomba lomba mencari SEKOLAH SWASTA ISLAM TERPADU atau PESANTREN unggulan untuk anak² saya. Betapa miris bahwa anak saya yg masih SD bisa lebih memiliki pemahaman yg lebih baik dibanding sepupunya yg di SMP negri 😓. Bahkan anak saya yg Home Schooling juga lebih baik dr pada saudaranya yg di sekolah Negri.
Jaman dulu kala.nilai ebtanas murni
Bangga masuk sekolah negeri
Yg masuk swasta dibilangin anak buang n bodoh😂😂alhasil malam subuh belajar😂
Terimakasih atas pencerahan nya.
Karena apa yang di bicarakan, semuanya adalah merupakan FAKTA dilapangan bahwasanya kalau para siswa sekarang keadaannya sangat memprihatinkan. Saya sudah membuktikan dengan Siswi yang sedang melakukan kegiatan PKL, di tanya beberapa pertanyaan dasar & juga singkatan yang setiap harinya biasa di dengar, siswi tersebut tidak bisa menjawab. Bahkan Kepanjangan dari Singkatan SD, SMP, SMA aja siswi tersebut tidak bisa menjawab. Sungguh miris & kondisinya memprihatinkan Pendidikan kita.😢😢
Sebagai orang yang tidak merasakan zonasi waktu sekolah, Alhamdulillah masuk smp/sma lewat UN, ketemu temen2 yg pinter juga dan sangat ambis.
Untung jaman sy gak ada zonasi sekolah deket rumah.....sistem sinting.... kalo pale sistem.gitu mana bisa sy sekolah stm negeri favorit sy 😂
kalo sistem kaya gini mah orang yg sekedar bisa baca dan itung itungan dasar bisa masuk sekolah negeri enak banget, tapi gaenaknya gitu ga ada daya saing😂
@revsistor8800, sy waktu masuk MTs termasuknya swasta jd ngga pake UN. Habis itu 2018 masuk SMK Negeri dekat rumah, tetap aja nggak pake Zonasi karena SMKN baru berdiri 2013 jadi selain milih karena deket rumah, sekolahnya jg yg butuh banyak siswa😅😅. Temen kelas sy jg ada yg dari luar kota.
Tapi bukan berarti karena masuknya gampang sy ketemunya sama yg males belajar, perbandingannya sekitar 60 : 40 yg ambis dan yang nggak. Ada yg ambisnya di kelas, di organisasi bahkan di olahraga.
Kalau Mtsn Negeri tahun 2014-2017 di daerah saya masih menerapkan UN,dan banyak kegiatan ekstrakurikuler dan pramuka wajib tiap hari Jumat.Dan pake kurikulum 2013.
Untung saat itu gk ada sistem zonasi karena banyak yg bisa milih sekolah mana yg diinginkan.
Contohnya satu kampung tapi ada yg sekolah di SMP1,SMP2,dan MTSN2.
Dan jarak mereka saling berdekatan satu sama lain,hanya beda kelurahan.
usaha saya 6 semester belajar dengan tekun agar bisa bersekolah di sma impian saya harus terkubur,kalah dengan anak berandalan yang bahkan suka tawuran hanya karena rumahnya hanya berjarak 500m dari sma tersebut,dan bahkan kini saya terpaksa sekolah di sma swasta yang semakin membebani keuangan orang tua saya.sungguh kebijakan yang luar biasa
Apresiasi untuk usaha anda belajar dengan tekun dek🙏🏻 teruslah belajar & semangat yaa.
Udah coba sharing ke presiden prabowo dek? agar pak prabowo juga berusaha memilih mendikbud yg hebat seperti salah satunya Prof. Dr. Fuad Hassan yg dulu pernah menjabat dek. Semoga pendidikan anda lebih baik lagi dimasa depan & tidak lagi membebani orang tuanya ya... seperti yg udah anda alami di era mandekbud yg gagal & gajelas sekarang ini ya dek.
😭😭😭😭😭
Kerennya pak ferry emang bisa mendeskripsikan secara gampang, padahal yang dibahas adalah topik yang ribet.
Doa saya cuma satu, semoga sistem pendidikan dan kurikulumnya cepet ganti.
Mau bolos,, nakal, berantem sama guru, mau bodoh gk bisa baca ngitung,, mau pinter seperti Albert Einstein. Gk ada yang di bedakan,, semuanya naik kelas dan bisa lulus..
Hebat sekali kebijakan pendidikan di negara kita ini
Sedih.. sy melihat anak2 SMP dan SMA swasta yg ada di dpn mata sy, jam 07.30 msh nongkrong di warung sambil merokok😢
bener loh. aku sering tuh pura2 nongki bareng mereka(tempat nongki pinggir laut gitu seperti pelabuhan buat ngechill kalo sore sampe malem) , SEMUA anak SMA yg gw liat meroko, anak smp beberapa ada yg ngeroko juga. yg gak meroko dari mereka cuman yang lagi pacaran berduaan ama cewenya itu doang selebihnya pasti meroko. heran sama gen Z zaman now kok makin rendah ya SDM nya, padahal gen milenial&gen90an kek gw banyak dicap sdm rendah apalagi mereka. makin miris.
Nge rokok mah bukan alasan utama mba, di jaman saya 20an tahun lalu juga banyak temen2 yg ngerokok sembunyi2. Cuma ya kaga tolol, masih pada berotak. Ngga ada tuh temen yg ngga bisa baca. Bandel iya, tapi ngga dungu.
Lah ini, bayangin di jaman 2024 kok malah mundur. Padahal generasi remaja muda ini yg akan banyak di 2045😂.
Jangan2 nanti bukannya indonesia emas tapi indonesia cemas. Bahaya sekali. Jangan sampai anak2 muda ini malah jadi beban kedepannha
@@cakomennemokac5915😅
Kehancuran negeri ini tinggal menunggu waktu
@@cakomennemokac5915 masih mending merokok mas...bawa anggur merah atau vodka lagi satu botol bisa 12 orang..hahaha..
Yah saya memang tak secara langsung ikut2an dan tak serta merta akrab, karena yg kegiatan sesudah pulang sekolah yg saya lakukan bersama mereka yah cari duit..ada yg ngangkut pasir sungai, ada yg buruh angkut barang, ada yg kerja di konter...wah banyaklah
Nah sekarang...pulang sekolah... napain anak sekarang tanpa adanya ujian nasional...lihat saja fakta di lapangan saat ini seperti apa... bahkan judi online di smartphone pun digas juga..😑
Paling ga yah ada kegiatan bermanfaat lah seperti ekstra kulikuler, les atau belajar sendiri atau ada yg buat eksperimen sendiri seperti teman2 saya lainnya yg punya kesempatan utk mengembangkan kecerdasannya...
Saat ini bukan hanya sistem pendidikannya saja yg darurat, peraturan baru yg dibuatpun kacau...ntah kapan diperbaikinya...saya g paham juga...
Pak mentri lupa kalo pertama kali finlandia merubah sistem pendidikan adalah dengan menaikan gaji guru, dampaknya para pelamar pun jadi lebih banyak yg kompeten, sekolah bisa menyaring guru2 berdasarkan kualitas pendidikannya.
Kedua pemerintah merenovasi sekolah smpe pake arsitek2 lokal ternama, hasilnya sekolahan mereka keren2 bgt (negri lho ya). Simpel tapi manjurrrr. Intinya upah dan fasilitas yg layak. Bayangin gaji guru kita sama ky karyawan pertamina, yg ngelamar pasti banyak lulusan2 terbaik dalam dan luar negri.
Jujur, saya mendengar dan melihat ini jadi bersyukur dan ber-istighfar karena hal yang disampaikan di atas. Saya murid SMP yang tergolong "favorit" di Yogyakarta ada ASPD di sini yang menurut saya menggantikan UN. Akan tetapi, tetap miris melihat siswa di luar Yogya belum mendapat pendidikan yang layak seperti yang diharapkan.
tunggu dulu, jadi yang di luar daerah yang menerapkan ASPD, mereka masuk pakai nilai apa? rapor sama zonasi? karena daerah ASPD kan pake nilai aspd itu, zonasi sama nilai rapot toh digabung?
Iya, makanya pas ppdb kemarin viral banyak masalah soalnya ada kasus katrol nilai + pindah kk
Gimana bisa memahami apa yg dibaca kalau ga bisa baca, gimana bisa mengaplikasikan konsep hitung berhitung KLO ga bisa ngitung, semua harus tau dasarnya dulu, bisa membaca adalah dasar dari apa yg nntinya di fahami apa yg di baca, mampu berhitung adalah dasar dari nnti nya mengaplikasikan konsep hitung berhitung.
Sistem belajar itu tidak seperti menuruni sebuah sumur sampai kita tau dasarnya , tp sistem pendidikan itu seperti mendaki gunung, harus tau dari dasarnya sampai kita tau puncaknya, konsep dan bentuk gunung itu sendiri.
Saya seorang guru honorer di sebuah sekolah negri. Menyaksikan bagaimana lamban dan tidak efektifnya sistem pendidikan di Indonesia.
Saat ini guru dipusingkan oleh kesibukan dalam melengkapi dan mengerjakan administrasi, belum lagi kamu harus menerima gaji yg tidak sepadan dengan kerja keras kami, yg setiap hari harus mengajar tapi juga dituntut mengerjakan berbagai administrasi. Seakan-akan jika kami tidak menyelesaikan administrasi akan lebih beresiko daripada jika kami tidak mengajar/masuk kelas.
Rendahnya pendapatan kami membuat kami mau tidak mau menjadi ambisi mengerjakan program2 yg disediakan oleh pemerintah agar kami bisa mendapatkan pendapatan yg "menjamin", tapi mereka lupa bahwa program tersebut berdampak pada kurangnya fokus kami dalam mengajar.
Sistem zonasi dan tidak adanya tinggal kelas merupakan faktor terbesar rendahnya semangat belajar siswa. Siswa menganggap nilai yg bagus bukanlah acuan untuk mereka mendapatkan Sekolah Negri atau bisa naik kelas. Sikap mencontek dan plagiarisme dijadikan kebiasaan dalam mengerjakan ujian.
Tolong buat video ini sampai ke Mas Menteri dan para pemangku kebijakan😭
aku memilih ga jadi guru kak, lulus tahun lalu tmnku uda pada magang. Wktu PPL sja administrasinya bnyk kerja udah kya 24 jam krna siang mengajar pulang bikin materi ajaran ,periksa PR siswa, buat soal anak". Terus siswa banyak yg sdh tidak punya sopan santun dimana sebenarnya itu harus kmbali dari ajaran d rmh mereka. ketika ada masalah di sekolah orang tua menyalahkan guru sampai berapa hari belum lagi diluar jam kerja memikirkan anak-anak bermasalah. sistemnya memaksa guru benar" tanpa tanda jasa hhh
Padahal tugas guru itu banyak, tanggung jwb sm murid di kelas, msh ngurusi laporan dll, anak sy sekolah di MI swasta ktnya guru wqli kelas sebulan 300rb, guru mapel cuma 150 rb. Benarkah? Sedih banget kl mmg bneran gajinya cuma segitu. Apa guru SD negeri juga sama ya? Yg belum pns
Iya bener kak, kami 180 perbulan sbg guru mapel😊@@MirnaErisa
Menteri kapitalis: 🙉🙈
@@muliyadiadi3683sama kak, aku memilih ga jadi guru juga
Masalah pendidikan di indonesia yg gw liat sekarang ini :
1. Kurikulum yang berubah² yg membingungkan guru
2. Semua murid wajib naik kelas walaupun muridnya bodoh dan nilainya jelek atau perangainya jelek cuma karena biar akreditas sekolah ga turun
3. Murid sekarang yg udah ga ada pr yg bikin sebagian murid jadi makin malas belajar karena tuntutan belajar semakin berkurang
4. Full day school tapi ga efektif
5. Ga ada UN
6. Ga ada rangking
7. Zonasi yg membagongkan
8. Gaji guru honorer yang kurang layak apalagi guru honorer yang bekerja di daerah pedalaman,malah ada guru yg ngajar 100 jam sebulan tapi gajinya cuman 200 rb
9. Sebaran sekolah yang fokus di pusat kota doang terutama sekolah smp atau sma
10. Semakin dikitnya anak muda yang mau jadi guru karena prosesnya susah
11. Jurusan di sma yang mau dihilangkan
12. Fasilitas sekolah yg ga memadai di banyak daerah apalagi pedalaman,bahkan sampai sekarang masih banyak yang lantai kelasnya masih tanah merah dengan berdindingkan papan
13. Guru makin ribet perkara tugas laporan tiap akhir semester yg makin banyak
14. Alokasi dana pendidikan yang jumlahnya lebih dari 600 T ga maksimal
15. Korupsi dimana²
16. Mentri pendidikannya yg gak paham apa masalah pendidikan di indonesia tapi bertingkah seolah² orang yg paling tau apa masalahnya dengan kasih solusi yg gak membantu
Dan masih banyak lagi..
Sulit kalau di beberkan satu-satu. Berat
Ga ada UN + masuk sekolah lewat zonasi, kata siswa teh " BUAT APA BELAJAR, CAPEK, MENDING TIK TOK-AN"
birokrasi guru ribetnya naudzubillah tapi ga efektif sama sekali. buang2 waktu, tenaga, dan energi
@@mroyyanalfatah3560pribadi, semales malesnya gua, gua tetep gak mau UN balik, akantetapi kalau masuk sekolah harus tetep melalui tes, itu aja sih.
banyak banget masalahnya
tapi mentrinya bukanya benerin masalah yang ada sebelumnya tapi malah nambahin masalah dengan bikin kurikulum baru mulu
Ayo teman di viralkan, kalau viral biasanya dapet perhatian dari pemerintah, ingat dapet perhatian bukan tindak lanjut, mau marah tapi kita ya bisa apa juga, cmn bisa mendukung orang orang yg peduli dengan negara ini, lnjut trs bang feri
Tolong ini di bantu di up. Supaya sampai ke pak prabowo. Sedih bgt dengernya. Mana anak bentar lagi bakal masuk sekolah juga 😢
Pendidikan kita amburadul
Sekarang kalian paham kan knp susanti di sekolahin di malaysia
best comment so far
bisa meringankan hati ini yg sedang menangis setelah membaca komen2 di atas
GGWP susanti
iya,, di tadika mesra, anak TK udah diajarin perkalian 😆😆
@ketchupzz sejauh ini komentar saudara yg paling jauuhhhh😂😂😂 cerdaaas berkelaaaasss🎉🎉
Wanjay, baru kepikiran 😅
Izin sharing dr POV seseorang yg memang ingin menjadi guru. Selama kuliah hingga sekarang menjadi guru, mulai dri magang PLP, ikut program KEMENDIKBUD (kampus mengajar), hingga menjadi guru dan mengajar di salah satu sekolah. Sungguh miris sekali kalo memang ngomongin sistem pendidikan dan kurikulum di negara kita ini. Mulai dari pemberdayaan tenaga pengajarnya (apalagi yg honorer), dr segi infrastruktur yg tdk memadai, adm pembelajaran yg bkn maen. Selama bergelut d dunia pendidikan pengalamn yg paling ngena dan nampol di benak saya cmn 1. Waktu itu pas ikut progaram KEMENDIKBUD (kampus mengajar) saya ditempatkan di SDN yg ad di kawasan Cilebar. Baru kali ini saya liat siswa yg sekolah pake baju bebas 😭 atap sekolah g ad alias bolong, tempat sekolah yg tdk strategis tepat berada di tengah2 sawah, akses ke sekolah yg lengah dikit auto ke akherat 😭. Pernah waktu itu ngajar pas lg hujan WKWKWKWK NGAKAK bgt belajarnya pindah ke rumah KEPSEKnya yg dmn rmhny g jauh dr sekolahannya. Kurang effort mana lg ketika anak masih mau belajar guruny masih mau ngajar. Hujan badai terik matahari di gas yg penting KBM masih berjalan dan kedua pihak sama2 saling support KBM tdk dipaksakan. Kebayang g kalian yg baca ini kalo kurikulum merdeka di terapkan di kondisi yg seperti itu? Sekolah gubuk yg tdk memadai fasilitasnya apa yg mau merdekany?
Makanya. Gebrakan yg "nyaris berhasil" Dr pak nadiem cm program kuliah merdeka. Sisanya? Amburadul se-hancur2 nya. Sampai bisa di-prediksi generasi pelajar sekarang menjadi "bom waktu" Korporat2/ aparatur negara dimasa depan
Dan org tua2 babi itu ttp menyalahkan guru jika anaknya nakal & bodoh 😂 di hukum ga boleh, di ajarin gak bisa tp maunya anaknya pintar & sholeh
Miris sih aku ngira guru honorer yang gajinya 250 perbulan udah paling miris ternyata ada yang lebih miris
@@fahmianjay3376 jangan sembarang 250 RB pak, saya 400 RB lho 😅
@@SemutHitam-dq9ux mantap buat uang bensin sebulan sama service motor aja gak cukup kayanya,btw itu 250 rb gaji guru gembul selama dia jadi guru honorer
Gua dukung lu bang sebagai mentri pendidikan
Tapi lu harus siap di kritik ya bang
Semoga tetap di jalurnya bang ✊
suru dia kritik guru pns yg malas kerja brani nga itu
guru pns itu suka duduk duduk main hp , di surunya orang ntah darimana jadi guru honor, yg di gaji dari dana bos
Sekarang siswa malah terang-teranan ogah jadi guru karna kismiin dan stress.. Cita-cita anak sekarang jadi kang parkir, gamers, youtuber 😂
Ngapain belajar cape 2 tar kalo pinter malah jadi guru 😂😂
@@afrizal46162 jelas beliau berani, cuma lagi belum aja, masa sih ga berani wkwkwk, dia aja udah nyebutin "sistem ini untuk diterapkan perlu dengan guru yang berkompetensi", itu arti nya masih banyak guru guru di indonesia itu yang buruk
@@afrizal46162 rivalnya aja (gugem) berani, masa bang ferry enggak. malah mungkin karena udh dibahas gugem.
Saran ane sih ya
Kembalikan ujian nasional
Kalau memang anak didik tidak layak naik tingkat, gausah malu sekolahnya gausah maksa untuk dia naik kelas banyak anak anak sampai SMA gabisa atau ga lancar CALISTUNG, 2045 Indonesia emas ?, omong kosong kalau pendidikan nya masih seperti ini.
*Intellectual curiosity!* Dulu sekali saya masuk SMA 15 km dari rumah. Naik sepeda pulang balik, lalu indekos (masak sendiri). Sekolah pelaut, jadi masinis dikapal 6 tahun (muntah2 terus - sebab bukan pelaut). _Fighting spirit_ IC dan iman kuncinya.
sebagai anak kelahiran tahun 90-an yg merasakan UN miris ngeliat anak sekolah zaman skrg yang miskin ilmu dan miskin adab, harga diri guru sekarang semakin tidak dihargai, bahkan orang tua nya sendiri pun tidak di hormati. ini salah satu bukti nyata kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. !
Wee need more content creator like you bg Ferry ! Salute !
Bang gua lahiran 1993
Mungkin kita ngerasain sistem pendidikan dan kurikulum yang sama
Dimana masih ada Ujian Nasional, masih kenal ranking, masih saling kompetisi untuk dapat sekolah favorit masing2, bahkan sampai ke seleksi masuk kelas favorit
Dan menurut gua itu bagus dimana tiap pelajar punya jiwa kompetisi satu sama lain walaupun pasti masih tetap ada praktek kecurangan
Tapi itu semua yang buat generasi itu jadi tahan banting karena untuk dapat sesuatunya kita cenderung harus berjuang dan gak instan
Lain hal sama generasi adek gua
Dia lahiran 2006
Udah mulai peralihan kurikulum aneh2 itu muncul
Gak ada ranking dan kelulusan ditentuin sekolah. Penentuan sekolah sudah pakai zonasi. Ditambah 2019 s.d 2023 covid yg buat mereka tambah kurang intens belajar atau cari referensi terkait mata pelajaran yg jadi bare minimum mereka seharusnya.
Hasilnyaa ya begitu ......
Gua bukan mau bilang kalo generasi gua lebih cerdas lebih pinter lebih nalar dsb dari adek gua bng (generasi sekarang)
Menurut gua mereka mereka bukan BODOH tapi ini PEMBODOHAN terstruktur
Mereka ini KORBAN dari kesalahan sistem dan kurikulum pendidikan yang gak disupport fasilitas penunjangnya.
Tolong lah dirubah kasian generasi penerus kita kelak
Percaya deh dengan kurikulum ini pemerintah cuma terlihat sedang nina bobo kan generasi kita.
Terlihat baik karena tingkat kelulusan 100% tapi secara kualitas jauh turun.
Untuk siapapun nanti stakeholder terkait saya harap keresahan kita sama
Terimakasih ❤️🩹
Setuju, gak ada kompetisi gak ada keinginna berusaha, anak belum siap secara pikiran di tingkat selanjutnya malah di naikin kelas (anak tolol bisa naik kelas).
Tolol akibat tidak ada keinginnan untuk belajar, "buat apa belajar toh bisa naik kelas bisa lulus",mungkin itu yang ada di otak anak sekarang.
Sayangnya generasi sebelumnya terkhusus orang2 cerdas di indonesia pun gak bisa mencegah sistem jelek pendidikan ampe kejadian di jaman ini.
Mau gimana lagi, diperbaikin pun udah terlambat.
Cuma 'revolusi' dari pemerintahan baru yg jadi harapannya, sehat selalu untuk Pak Prabowo dan Tim Kabinetnya.
bro, eksplorasi bisa dilakukan secara mandiri, kalau orang gabisa inisiatif buat belajar dan harus terus dipecut sama tuntutan dia gaakan bisa belajar seumur hidup!
Bersyukur masih bisa mengalami pendidikan dasar di era 70-80 an yg bener2 mempelajari banyak pengetahuan umum yg terasa sampai saat ini...dan memprihatinkan utk pendidikan saat ini 😢
Kadang gak percaya tp emang terjadi, di tempat kerja kaget liat anak sekarang ada yang gak bisa nulis kalimat terbilang nominal uang 😢
Tengkyu bgt bg, gw yg udh 6 taon jadi guru liat siswa gw tu malah ha hoh sndiri, dlm artian tugas guru tu estafet ya dr SD - SMA tu kudu bgt di maintain. Di kelas gw jg ada yg BUTA HURUF dan emng kuras tenaga bgt bwt diferensiasi tiap anak. Smngt sobat guru Nusantara 🔥
Semngat skrg mentri kita ganti harapan kedepanya semoga bisa lebih baik lagi👍🏻🔥
Gw suka nih pembahasan ini, bang. Karena akan sangat berpengaruh buat perkembangan negara kita di masa depan.
SEMOGA .. SEMOGA BANG FERY BISA MENDUDUKI SALAH SATU KURSI MENTERI DI ERA PRESIDEN PAK PRABOWO SESUAI DENGAN KEAHLIAN DAN KEMAMPUAN YANG JENENGAN KUASAI, BANG. 🔥🔥
Keluhan guru2 mulai tampak di universitas. Beberapa postingan di kantor2 yang mempekerjakan orang2 usia lulus SMA dalam waktu dekat ini juga mulai tampak keluhannya. Jadi... yaaa mulai memprihatinkan
Alhamdulillah,terima kasih banyak bang Ferry,kepedulian anda membuka mata hati saya sebagai orang tua,setidaknya saya harus terus pacu belajar,untuk meng aplikasikan,memantau kepada anak saya.....,membuat pendidikan yang pertama satu hal yang harus saya bangun.......saya hawatir bila masa depan nanti generasi emas tp Rasa Perunggu😞
Sebagai orang yang terjun di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, saya sepakat dengan seluruh analisis dan breakdown yang disampaikan mas Ferry ini. Masalah pendidikan di negeri kita sangatlah kompleks, dan benar bahwa tidak bisa kita serta merta mengadopsi sistem pendidikan negara lain untuk diaplikasikan di Indonesia dengan harapan outcome yang sama karena banyak sekali variabel dari negara yang kita adopsi tidak tersedia di negara kita. Jika masalah di sekolah dasar dan menengah salah satunya terkait tidak bisa membaca atau menghitung, di perguruan tinggi masih banyak mahasiswa yang kurang dalam ketajaman analitiknya. Masih banyak mahasiswa yang belum bisa berfikir logis dan runtut, sehingga dalam mengurai masalah seringkali tidak akurat dan terkesan superfisial. Akhirnya, SMP harus mengurai lagi bahasan SD, SMA mengurai lagi bahasan SMP, dan hampir selalu bahasan yang sudah beres di SMA harus diulang lagi ketika masuk perguruan tinggi. Saya berharap ada banyak lagi anak muda seperti mas Ferry ini, sekaligus kita wajib mempunyai kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya dibebankan pada sekolah dan guru saja, melainkan banyak hal yang seharusnya sudah diajarkan di rumah sehingga proses penyampaian belajar dalam sekolah menjadi lebih efisien.
Semua pihak turut bertanggungjawab, mulai dari pendidik, peserta didik, pemangku kebijakan, bahkan orang tua. Saling melemparkan tanggungjawab tidak akan menyelesaikan masalah, meskipun kita paham bahwa tidak semua orang mampu bertanggungjawab atas masing-masing peran dan kewajiban atas pendidikan tersebut.
Terimakasih bung, terus sampaikan pemikiranmu. Hormat dan selalu ditunggu analisis-analisis berikutnya.
indonesia butuh orang2 seperti anda bung,yg peduli akan pendidikan, memberi kritik skaligus alternatif solusi.ayo para stake holder,perbaiki legacy sistem pendidikan nasional.tambah tahun generasi kita semakin menurun secara kompetensi.kl gini trs,emang bisa ada trwujud indonesia emas?😀
Thank you bang Ferry sudah menyuarakan kegelisahan banyak orang tentang sistem pendidikan kita. Zonasi ini sungguh menjerumuskan kita untuk berbuat curang (masuk ke sekolah negeri di luar zona dengan "bayar") karena sekolah tidak tersebarrata dan negara tidak memberikan fasilitas pendidikan dengan adil karena bukannya dibuat pemerataan sekolah negeri di segala penjuru tapi malah semakin menjamur selolah swasta dimana-dimana. Artinya sekolah menjadi barang mahal untuk sebagian orang.
Menurut saya, sistem zonasi adalah sistem yang membatasi siswa dalam berkembang dari segi pola pikir dan banyak hal lainnya. Saya mengambil contoh nyata dari kisah sewaktu saya sekolah dulu. Saya berdomisili di bekasi, tapi SMP dan SMA di Jakarta utara. Tiap hari harus bangun subuh, berangkat naik bis. Kadang pulang juga sampe rumah jam 8 Malem karna macet dan bimbel. Rutinitas yang luar biasa, sama kaya orang kantoran. Berangkat gelap pulang gelap. Tapi.. Banyak nilai dan pengalaman luar biasa didalam proses itu. Kedisiplinan, mental survival, nilai kejujuran, manajemen waktu, manajemen keuangan dan hal positif lainnya. Ya, itu adalah nilai nilai dan pelajaran yang gakkan pernah didapat di bangku sekolah. Zonasi ini malah menutup ruang pembelajaran siswa "LAINNYA" yang gakkan pernah diajarkan dan didapatkan di sekolah. Awalnya berat, sangat berat ketika dijalani. Tapi akhirnya saya pun sadar bahwa sangat berpengaruh untuk membentuk karakter seorang siswa.
Yg optimal harusnya sekolah dekat dengan rumah agar siswa waktunya tidak habis di perjalanan semata. Tapi sayang, sistem Zonasi ini exe nya ga sebagus teori di kertas yg mau setiap daerah diisi tenaga didik berkualitas.
Ini sekedar opini pribadi
1. System ranking seharusnya di adakan terlebih dahulu sebelum mengikuti system pendidikan Finlandia (jadi bisa memisahkan antara orang muda yang niat belajar dan yg tidak, setidaknya Jika mereka lolos sekolah dan memiliki nilai nilai bagus di sesuai dengan mata pelajaran yang dia kuasai, dia bisa memilih universitas yang dia tekuni!)
2. Menaikkan gaji guru tetapi harus juga di awasi juga karena mungkin saja ada yg manfaatkan keadaan tersebut dan mengambil keuntungan dari situ ! (Menaikkan gaji guru dan meminta guru mengajar murid nya yg guru tersebut kuasain mata pelajaran tersebut, maksudnya guru SD menguasai mata pelajaran yang sederhana dan ketika salah satu ada murid yg menguasai satu mata pelajaran dengan nilai terbaik, maka guru tersebut bisa rekomendasi sekolah/guru yang memiliki nilai mata pelajaran terbaik/universitas sesuai dengan bakat murid tersebut sehingga bisa mengasah kemampuan belajar nya
3. Pengawasan yang ketat setiap sekolah, baik dikota kota gede dan pelosok sehingga tidak ada kecurangan dalam system pendidikan tersebut (korupsi lah / guru males belajar murid murid lah / atau system sekolah yang tidak sesuai dengan system yg diterapkan oleh negara)
4.hilangkan belajar agama tetapi bukan berarti dihilangkan sepenuhnya (sediakan buku buku pelajaran agama dan guru yang menguasai agama, contoh nya, sekolah yang memiliki ruang khusus untuk agama setiap jam pulang sekolah, dan tergantung pihak murid dan orang tua nya yg memutuskan apakah mereka mau belajar atau tidak karena dalam Islam tidak ada paksaan untuk mengikuti Islam)
5. Hukum berat bagi yang melanggarnya
(Tetapi harus manusiawi, baik bukan berarti lemah, kejam bukan berarti jahat, hanya ingin disiplin untuk para guru dan murid sehingga mereka taat akan peraturan sekolah)
Dan saya akan kembali lagi ketika ide ide saya masuk lagi
Jika ada yg salah atau mau nambah tinggal komentar dan kita saling tukar pikiran sehingga tercipta lah komunikasi yang baik!
yg nomer 4 alasan anda apa ya?
Menit ke 10:28 : Nadiem mengatakan " .... yaitu literasi, kemampuan.. bukan membaca... tapi memahami konsep bacaanya...." sebentaaar.... kalau nggak bisa baca.. gimana bisa paham konsep sebuah bacaan ? apa tulisan2 di buku cuma di pantengin saja tanpa di baca, kita bisa paham ?
Diresapi, dan di imajinasikan memakai sixth sense kak 😂😂
@@edferr09 pake _voice of all things_ kek yang dipunya si Luffy atau Roger di Wanpis😅😂
@@edferr09 🤣😂
Kocakkk
Yaps betul, apalagi numerasi dll, untuk menerapkan, mengaplikasikan suatu hitung2an terhadap konsep yang abstrak itupun klo anak gak paham hitung2 gimana bisa menerapkan? 😊
Ini PERINGATAN DARURAT yang sebenarnya, tentang pendidikan di negara kita
indonesia darurat malas
garuda pink nya mana
Bukan cuma tentang pendidikan. Tapi hampir segala aspek kenegaraan. Negara ini udh tinggal nunggu roboh bareng bareng atau dijajah bareng bareng kalo pemerintahnya masih memikirkan kaumnya sendiri trrus. Emg anjing
Almarhum bapak saya guru, ibu saya juga guru. Dari dulu waktu mulai zonasi sampai sekarang selalu bilang : zonasi bukan pemerataan pendidikan. Zonasi pemerataan kebodohan.
Guru guru juga tidak termotovasi buat ngajar dengan kurikulum sekarang
Udah gitu ditambah wajib naik kelas + murid tidak ada ujian.
Yang bertanggung jawab di program program ini hisabnya berat nanti di akhirat. Wallahualam
Berarti mending masuk sekolah swasta terkenal, soalnya klo anak didiknya bodoh sekolahnya malu, pemasukannya berkurang
setiap bulan guru harus melaporkan kemajuan tentang anak didiknya secara periodik sehingga dapat diketahui kemajuannya, kemudian setiap saat disampel dari sebuah tim tentang kemajuan anak tersebut, jangan menunggu semesteran atau kenaikan kelas.
Mau nge-share pengalaman aja, memang perlu diakui masih banyak yang perlu dibenahi dalam pendidikan kita, tapi menurut saya program kampus merdeka sangat patut diacungi jempol loh. Kebetulan saya alumni pertukaran mahasiswa merdeka di Sulawesi Tenggara. Jadi di program ini saya berkesempatan untuk belajar di kampus selama satu semester dan bisa lintas jurusan. Dan dikasih BBH itu semacam duit lah. Kemarin di angakatan saya , kebetulan saya angkatan ke 3 dpt 1.5 per bulan. Di sana saya dpt temen temen dari Aceh sampai Sorong. Sungguh terimakasih kepada pak menteri yang sudah menginisiasi program ini. Untuk pertama kalinya saya keluar dari Pulau Jawa, naik pesawat gratis PP, jadi tau gimana kehidupan di luar Jawa khususnya Sulawesi tenggara. Sungguh pengalaman yang luar biasa.. mungkin kalau ngga ikut program ini , saya ngga akan tau rasanya hidup di luar Jawa.
Program ini emang bagus, kebetulan gw jg ikut. Tapi yg netizen dan Masyarakat khawatir lebih ke kurikulum merdeka anak sekolahan yg ngalor ngidul, Gajelas mau kemana arahannya